Berita Demak

Melihat Pedang Sunan Kudus dan Pintu Bledeg di Museum Masjid Agung Demak

Masjid yang dibangun pada masa Kesultanan Raden Patah bersama Wali Songo tersebut masih kokoh berdiri hingga sekarang.

Penulis: Reza Gustav Pradana | Editor: m nur huda
TRIBUN JATENG/REZA GUSTAV
Pemred Tribun Jateng, Erwin Ardian, mewawancara petugas Museum Masjid Agung Demak, Khusni Mubarok, terkait benda-benda peninggalan Wali Songo di Museum Masjid Agung Demak, Senin (21/3/2022). 

Sebagaimana sering terlihat pada gambar kalender atau buku sejarah, Masjid Agung Demak dengan bentuk atap yang khas kokoh berdiri dan terawat hingga kini. Masjid di Kauman, Bintoro Demak ini dibangun abad 15 masa Sultan Patah dan Walisongo.

TRIBUNJATENG.COM, DEMAK - Masjid Agung Demak menjadi satu di antara tempat paling ikonik di Kabupaten Demak atau Kota Wali.

Masjid yang dibangun pada masa Kesultanan Raden Patah bersama Wali Songo tersebut masih kokoh berdiri hingga sekarang.

Masjid yang dibangun abad ke 15 ini termasuk masjid yang tertua di Indonesia. Tak hanya menjadi tempat beribadah, masjid ini juga menjadi jujukan para peziarah dari Jateng, Jabar, Jatim dan daerah lain di Indonesia.

Di samping belakang Masjid Agung terdapat makam Sultan pertama Kesultanan Demak Bintoro yaitu Raden Patah. Dan makam para sultan-sultan Kesultanan Demak.

Di samping halaman utama, terdapat museum yang menyimpan benda-benda bernilai sejarah. Berbagai koleksi bersejarah terkait Masjid Agung Demak, termasuk benda-benda peninggalan Wali Songo, tertata rapi dan terawat di sana.

Salah satu yang bernilai sejarah tinggi yakni Alap-alap Samber Nyowo. Alap-alap Samber Nyowo merupakan pedang yang dalam catatannya tertulis asal muasalnya dari Sunan Kudus.

Pedang itu tersimpan rapi di dalam kotak kaca bersama dengan tongkat kayu telentang sejak tahun 1597 Masehi dan dua buah paku Masjid Demak sejak tahun 1615 Masehi.

Pedang tersebut kemudian diserahkan ke berbagai tokoh, misalnya Panembahan Palembang, KH Zaenal Abidin, KH Marwan, H Sanusi, dan lainnya hingga akhirnya tersimpan di Masjid Agung Demak pada 26 Agustus 2003 lalu.

Tiang utama

Benda lain paling mencolok yaitu peninggalan Wali Songo yang begitu populer, adalah bagian-bagian dari saka guru atau tiang utama penyangga bangunan Masjid Agung Demak yang asli. Saka guru yang disimpan dalam kotak kaca itu berjumlah empat tiang berbahan kayu jati. Tiga di antaranya berukuran setinggi tujuh meter.

"Yang berada di dalam museum adalah bekas saka guru bagian bawah setelah renovasi pada 1982 lalu. Jadi yang tujuh meter ke bawah (di dalam Masjid Agung Demak) sudah diganti. Sedangkan yang 10 meter ke atasnya saat ini masih asli di dalam Masjid Agung Demak,” ujar seorang petugas di Museum Masjid Agung Demak, Khusni Mubarok, Senin (21/3/2022).

Masing-masing saka guru tersebut disusun oleh empat anggota Wali Songo pada zamannya, yaitu Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati dan Sunan Kalijaga dengan saka tatalnya. Serbuk-serbuk kayu dari keempat saka guru tersebut juga disimpan di dalam gelas yang masing-masingnya tertulis nama para sunan.

Ki Ageng Selo

Koleksi peninggalan sejarah lainnya yang tak kalah menarik perhatian yaitu Pintu Bledeg. Pintu Bledeg dulunya menjadi pintu utama Masjid Agung Demak. Pintu itu menjadi benda tertua yang disimpan di Museum Masjid Agung Demak, tertulis dibuat pada 1466 Masehi.

Pintu itu terbuat dari kayu jati dengan berbagai ukiran bergambar dua kepala naga. Pintu tersebut konon adalah gambar petir yang ditangkap oleh Ki Ageng Selo dan digambar di pintu itu.

Ada juga terseimpan Alquran tulisan tangan karya Sunan Bonang. Selain itu, wisatawan yang berkunjung juga dapat melihat koleksi lain di museum tersebut.

Misalnya bedug Wali pada abad XV, kentongan, gentong hadiah dari Putri Campa, ibu Raden Patah, maket Masjid Agung Demak. (Reza Gustav)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved