Minggu, 17 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Wawancara Khusus

Ester Bagi Tips Edukasi Politik untuk Kaum Milenial

Saya melihat dengan adanya survei ini ada dua hal tadi, ada edukasi pendidikan politik di dalamnya gimana masyarakat belajar untuk mengenal calon

Tayang:
Penulis: Hermawan Handaka | Editor: rustam aji
Tribun Jateng
Ester Krisnawati, SSos, MIKom, CSP, Dosen Fisikom UKSW 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dosen UKSW Salatiga, Ester Krisnawati, SSos, MIKom, CSP hadir di studio Tribun Jateng bersama Ketua KPU Jateng Yulianto Sudrajat, Ketua Bawaslu Jateng Fajar Subkhi AK Arif, dalam acara Tribun Forum dengan tema Persiapan Jateng Jelang Pemilu 2024.

Video Tribun Forum telah tayang di media sosial Tribunjateng, dan kali ini disajikan kepada pembaca Tribunjateng.com serta koran cetak Tribun Jateng yang disadur oleh reporter Hermawan Endra Wijanarko. Berikut petikan wawancara dengan Ester Krisnawati.

Menurut Ibu, bagaimana situasi Pemilu 2024?

Secara eksplisit mungkin belum tampak banyak. Tapi intinya Pemerintah bersama DPR sudah menetapkan tanggal pemungutan suara yaitu 14 Februari 2024.

Terkait wacana tarik menarik untuk menunda Pemilu itu soal lain. Bahwa Pemilu itu diselenggarakan 5 tahun sekali, iya sudah sepakat.

Tapi Presiden juga menghormati adanya wacana penundaan Pemilu karena itu bagian dari demokrasi.

Di daerah, menurut saya, pembicaraan tentang Pemilu belum begitu signifikan.

Meskipun saya lihat sudah banyak bendera parpol atau poster dan baliho terpasang.

Pandangan dari konteks sisi komunikasi, hal itu sebagai strategi komunikasi politik.

Tujuannya adalah untuk mengedukasi, mengingatkan kembali kepada masyarakat, menguatkan kembali bahwa negara kita adalah negara demokrasi mempunyai banyak partai politik di dalamnya.

Nah itu mencoba mengingatkan dengan adanya atribut-atribut tersebut. Itu yang saya lihat persiapan menjelang dua tahun ini.

Apakah masyarakat merespon publikasi parpol?

Kalau saya mengamati, hal itu belum banyak direspon. Mungkin masyarakat melihat ini kok belum sampai kampanye sudah ada bendera, poster dan sebagainya.

Saat ini masyarakat masih fokus kepada pandemi yang ada.

Masyarakat sedang fokus mikir ekonomi dan pendidikan.

Jadi mereka belum banyak merespon terkait pemilu. Ranah pendidikan sudah banyak diskusi dan riset.

Mungkin parpol saat ini pada tahap bagaimana cara mengedukasi pemilih pemula. Sebatas itu dulu.

Survei bakal calon presiden bagian pembelajaran politik?

Iya saya lihat ada unsur edukasi politik. Karena dari survey yang dilakukan dari situ dikemukakan bagaimana profil, elektabilitas dari bakal calon-calon Presiden yang ada.

Itu sangat perlu supaya masyarakat teredukasi dan mengenali calon pemimpinnya. Masyarakat jadi paham elektablitas orang yang didukung seperti apa.

Kinerjanya seperti apa, latar belakangnya bagaimana. Itu penting diketahui oleh masyarakat.

Survei termasuk menggiring opini publik?

Tentu tidak bisa dipungkiri, selain ada edukasi tentang politik tentunya pasti juga membangun opini masyarakat.

Apalagi ketika tahu elektablitasnya, latar belakang, kinerjanya maka masyarakat punya persepsi kepada tokoh yang disurvei.

Saya melihat dengan adanya survei ini ada dua hal tadi, ada edukasi pendidikan politik di dalamnya gimana masyarakat belajar untuk mengenal calon pemimpinnya seperti apa yang kedua adalah membangun opini kemudian menciptakan persepsi di dalam pikiran masyarakat tersebut.

Bagaimana komunikasi politik dengan milenial?

Dari survey yang pernah saya dapatkan, penduduk Indonesia terutama dalam hal sebagai pemilih itu hampir 50% adalah generasi milenial.

Mereka pemilih pemula. Pemilih dewasa 25-30 tahun.

Generasi milenial mereka hidup dalam dunia digital, hampir 75% itu ada di dalam kehidupan digital.

Saat ini parpol sudah mulai menggarap kaum milenial dengan membuat konten2 digital yang kemudian dishare di media sosial.

Menyapa mereka di dunia yang mereka minati. Konten-konten kemudian dishare. Cara itu cukup mempengaruhi sikap pilihan anak muda.

Tapi harus ada warning, bahwa partisipasi mereka dalam dunia digital khususnya dalam partisipasi politik ini ya mereka harus dibekali dengan yang namanya literasi digital.

Tapi parpol juga harus paham bahwa saat ini sangat rentan dengan hoax.

Bagi pemilih pemula, informasi hoax yang dikemas dengan apik, cukup berbahaya mempengaruhi sikap pilihannya. Kaum milenial rentan jadi sasaran empuk hoax.

Pentingnya literasi digital itu supaya generasi milenial ini melek digital bisa membedakan informasi hoax terkait politik. (wan)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved