Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Kebiasaan Kiai Kertoboso Bustam Mandikan Cucunya Jelang Ramadan Dipercaya Awal Tradisi Gebyuran

Tradisi gebyuran di Kampung Bustaman ternyata memiliki makna tersendiri bagi masyarakat.

Penulis: budi susanto | Editor: sujarwo
Tribun Jateng/Budi Susanto
Ratusan warga tumpah ruah dalam kemeriahan tradisi gebyuran di Kampung Bustaman Kota Semarang jelang Ramadhan, Minggu (27/3/2022). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Tradisi gebyuran di Kampung Bustaman Kota Semarang ternyata memiliki makna tersendiri bagi masyarakat.

Meski di tangah majunya teknologi, tradisi gebyuran tersebut masih terjaga dan lestari.

Bahkan setiap tahun menjelang bulan Ramadh

Ratusan warga tumpah ruah dalam kemeriahan tradisi gebyuran di Kampung Bustaman Kota Semarang jelang Ramadhan, Minggu (27/3/2022).
Ratusan warga tumpah ruah dalam kemeriahan tradisi gebyuran di Kampung Bustaman Kota Semarang jelang Ramadhan, Minggu (27/3/2022). (Tribun Jateng/Budi Susanto)

an, gebyuran masih dilaksanakan masyarakat.

Tradisi jelang Ramadhan di Kampung Bustaman tersebut juga sudah berjalan bertahun-tahun silam.

Meski awalnya hanya menjadi agenda tahunan biasa bagi warga, namun sejak 2013, tradisi tersebut jadi agenda dan magnet bagi wisatawan.

Pasalnya, warga Kampung Bustaman bersama Kolektif Hysteria, yaitu organisasi seni bergerak di bidang pemberdayaan anak muda berbasis komunitas di Kota Semarang, berusaha mengembangkan tradisi tersebut untuk menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Bahkan pada pelaksanaan tradisi gebyuran, Minggu (27/3) sore, wisatawan dari berbagai daerah menyempatkan diri untuk mengikuti prosesi tersebut.

Tak hanya para pelancong, Wali Kota Kendari H Sulkarnain juga menghadirkan acara yang digelar di Kampung Bustaman tersebut.

Dijelaskan Akhmad Khoridin dari Hysteria, tradisi gebyuran dipercaya warga sebagai kebiasaan lama leluhur Bustman yaitu Kiai Kertoboso Bustam.

"Tradisi tersebut dipercaya warga sebagai cara Kyai Kertoboso Bustam untuk memandikan cucunya menjelang Ramadhan," paparnya, Minggu (27/3/2022) petang.

Dilanjutkannya, saat ini tradisi di Kampung Bustaman menjadi sorotan, dan banyak pihak yang berupaya menjadikan tradisi tersebut menjadi festival kolosal di Semarang. 

"Menurut kami kalau ditarik keluar dari kampung keotentikannya akan hilang. jadi biarlah Bustaman tetap seperti itu, hanya saja tata acaranya bisa dipercanggih," katanya.

Dikatakannya, jika ada yang bisa dipelajari dari tradisi di Bustaman justru metodenya.

"Mengapa tradisi di Bustaman bisa menjadi sedemikian rupa dan disokong sepenuhnya warga yang sebelumnya tidak punya tradisi. Nah dari sana kami bisa belajar dan melipatgandakan kegiatan serupa, agar Bustaman-Bustaman lain, tidak dalam konteks gebyuran tetapi peristiwa lainnya bisa digelar," ucapnya.

Adapun Plt Kepala Disbudpar Kota Semarang, Sapto Adi Sugihartono, yang menghadirkan acara menyebutkan, tradisi gebyuran di Kampung Bustaman menjadi daya tarik bagi wisatawan.

"Kami berharap tradisi di Kampung Bustaman tetap terjaga, dan dilaksanakan setiap tahunnya. Pemkot Semarang juga mendukung dan merasa bangga adanya tradisi di Kampung Bustaman," tambahnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved