Breaking News
Jumat, 29 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Konflik Rusia dan Ukraina

Rusia dan Ukraina Segera Lanjutkan Perundingan Damai, Kali Ini di Istanbul Turki

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy mengatakan, negaranya siap berada dalam posisi netral, bebas nuklir, dan menawarkan jaminan keamanan kepada Rusi

Tayang:
Editor: m nur huda
Shutterstock
Museum Hagia Sophia di Istanbul, Turki. 

TRIBUNJATENG.COM, KYIV - Sejumlah kota di Ukraina masih membara, dengan serangan pasukan Rusia yang menghancurkan berbagai fasilitas vital.

Meski demikian, kedua negara bersiap melanjutkan perundingan damai yang akan digelar akhir bulan ini.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy mengatakan, negaranya siap berada dalam posisi netral, bebas nuklir, dan menawarkan jaminan keamanan kepada Rusia. Ia mengatakan negaranya siap memenuhi syarat utama untuk mengakhiri perang dengan Rusia.

Namun, Zelenskyy mengatakan bahwa pemerintahnya 'hati-hati' mempertimbangkan opsi untuk mengadopsi status netral menjadi bagian dari kesepakatan damai dengan Rusia. Pernyataannya muncul dalam wawancara video dengan media independen Rusia.

Baca juga: Rusia Dituding Ingin Memecah Ukraina Jadi Dua Negara Seperti Korut dan Korsel

"Poin negosiasi ini dapat dimengerti oleh saya, dan sedang dibahas, sedang dipelajari dengan cermat. Jaminan keamanan dan netralitas, status non-nuklir negara kami. Kami siap untuk itu. Ini poin terpenting," katanya, dalam wawancara selama 90 menit tersebut.

Dia juga mengatakan bahwa penggunaan bahasa Rusia di Ukraina adalah topik yang dibahas, tetapi tidak akan membahas demiliterisasi, satu tuntutan utama Moskow sejak awal perang.

Zelenskyy menyatakan, kesepakatan apa pun harus disertai dengan jaminan dari pihak ketiga, dan akan diputuskan melalui referendum. Dia juga mengatakan kepada wartawan Rusia bahwa invasi telah menghancurkan kota-kota berbahasa Rusia di Ukraina.

Seperti diketahui, perang di Ukraina memasuki hari ke-33 pada Senin (28/3). Ribuan bangunan di Ukraina hancur, rata dengan tanah, jutaan orang Ukraina mengungsi mencari selamat ke negara tetangga, ribuan orang tewas, dan ribuan orang terluka.

Kecaman dan kutukan datang bertubi-tubi dari segala penjuru dunia yang dialamatkan ke Rusia, Majelis Umum PBB menerbitkan resolusi yang didukung 141 negara anggota mengutuk dan menuntut pernarikan pasukan secara penuh, bahkan Mahkamah Internasional pun memerintahkan agar Rusia menghentikan operasi militer.

Berbagai sanksi ekonomi pun dijatuhkan AS dan negara-negara Eropa, serta sejumlah negara lain, dan banyak perusahaan bereaksi terhadap invasi militer itu. Namun, hal itu belum mampu menghentikan perang.

Offline

Adapun, perundingan Rusia-Ukraina secara offline akan kembali digelar pada Selasa-Rabu (29-30/3/2022). Hal itu diungkapkan Asisten Presiden Rusia, Vladimir Medinsky, yang selama ini memimpin delegasi Rusia ke pembicaraan dengan Ukraina, pada Minggu (27/3).

"Pembicaraan putaran lain dengan Ukraina dalam format konferensi video diadakan hari ini (Minggu-Red). Sebagai hasil, keputusan dibuat untuk bertemu secara offline pada 29-30 Maret," tulisnya, di saluran Telegramnya.

Perundingan Rusia-Ukraina telah dilangsungkan beberapa kali sejak Presiden Vladimir Putin memerintahkan 'operasi militer khusus' di Ukraina pada 24 Februari.

Perundingan ronde pertama sudah diadakan di wilayah Gomel, Belarus pada Senin (28/2). Pembicaraan itu berlangsung selama 5 jam.

Setelah itu, pembicaraan putaran kedua telah diadakan di Belovezhskaya Pushcha, Belarus pada Kamis (3/3), dan pembicaraan putaran ketiga dilaksanakan di wilayah Brest, Belarus, pada Senin (7/3). Lebih banyak perundingan lain diadakan dalam format online.

Perundingan Rusia-Ukraina ronde terbaru kemungkinan akan diadakan di Turki.

Kantor Kepresidenan Turki mengatakan pada Minggu, bahwa Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin telah sepakat untuk mengatur putaran pembicaraan berikutnya antara delegasi Rusia dan Ukraina di Istanbul, Turki.

Mereka menyampaikan hal tersebut setelah terjadi percakan telepon di antara kedua pemimpin negara itu.

"Dalam pembicaraan tersebut, para presiden membahas perkembangan terakhir dalam perang Rusia-Ukraina dan proses negosiasi. Presiden Erdogan dan Presiden Putin sepakat untuk mengatur pertemuan berikutnya antara delegasi Rusia dan Ukraina di Istanbul," kata Kantor Kepresidenan Turki, dilansir dari Kantor Berita Rusia, TASS.

Menurut Kantor Kepresidenan Turki, dalam teleponnya, Erdogan menyerukan gencatan senjata segera dan perjanjian damai antara kedua belah pihak.

Presiden Erdogan mengatakan kepada Presiden Putin, bahwa negaranya akan melanjutkan upaya mediasinya untuk membangun perdamaian antara Rusia dan Ukraina.

"Presiden Erdogan menekankan perlunya mencapai gencatan senjata dan perdamaian antara Rusia dan Ukraina sesegera mungkin, dan meningkatkan situasi kemanusiaan di kawasan itu. Turki akan terus memberikan kontribusinya untuk proses ini," ungkap mereka.

Turki sendiri berharap bahwa pembicaraan yang akan datang antara delegasi Rusia dan Ukraina di Istanbul akan menghasilkan perdamaian di Ukraina. Hal itu disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu pada Minggu.

"Atas inisiatif Presiden Erdogan, delegasi negosiasi Rusia dan Ukraina akan bertemu di Turki. Kami menyadari tanggung jawab yang berasal dari kepercayaan yang diberikan kepada Turki oleh kedua belah pihak. Kami berharap pertemuan itu akan menghasilkan gencatan senjata yang langgeng dan memungkinkan perdamaian," tulisnya di akun Twitternya. (Tribunnews/Kompas.com/Tribun Jateng cetak)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved