Horizzon
Kita yang Diperolok Iran
Sekali lagi, perang di Iran kali ini juga menjadi pelajaran sekaligus fakta yang memperolok kita semua di Indonesia.
Penulis: Ibnu Taufik Juwariyanto | Editor: abduh imanulhaq
Oleh: Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Jateng
JARAK udara atau jarak peta antara Iran dan Indonesia tercatat sejauh 7.304 kilometer. Adapun jika dihitung jarak antara kedua ibukota negara, Teheran dan Jakarta, angkanya menjadi 7.413 kilometer. Jika dihitung dari jarak penerbangan, maka antara Indonesia dan Iran memiliki jarak delapan jam penerbangan tanpa henti.
Secara fisik, jarak tersebut menurut saya boleh dibilang cukup jauh. Namun lantaran memanasnya suasana di Iran pascaserangan Israel yang bersekutu dengan Amerika, maka jarak kita dan Iran rasanya cukup dekat. Dekatnya jarak ini karena dampak perang Iran ada di depan mata kita.
Satu yang sudah mulai kita rasakan adalah ketakutan akan krisis minyak bumi akibat peran Iran ini. Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, yang menyebut bahwa daya tampung cadangan minyak yang kita miliki hanya cukup untuk 20 hari, membuat kita menjadi semakin waswas.
Fakta ini berbeda dengan Jepang yang mengeklaim bahwa mereka memiliki storage minyak yang mampu untuk 250 hari konsumsi dalam negeri.
Berawal dari soal BBM ini, konsekuensi paling logis adalah kenaikan harga yang bisa dipastikan akan mengerek harga komoditas lainnya. Bisa dibayangkan jika ini terjadi, situasi ekonomi kita tentu menjadi masalah besar. Skenario dampak ekonomi ini tentu akan lebih jitu, jika kita melihat dari perspektif mereka yang memiliki basis bidang ekonomi.
Saya lebih tertarik untuk mengambil sisi lain dari perang Iran yang menurut saya jauh lebih ‘menakjubkan’ untuk diceritakan. Ini tentang balasan Iran terhadap Israel dan simpul-simpul Amerika yang bertebaran di negara-negara Teluk.
Iran yang diembargo Barat sejak meletusnya Revolusi Iran, pada 1979, ternyata diam-diam dan pasti sukses membangun pertahanan militer yang mengagumkan. Dan, itu dipertontonkan di mata kita.
Kekuatan balasan yang ditunjukkan Iran bahkan membuat analis multinasional menjadikannya sebagai premis awal bahwa mustahil Amerika dan Israel bisa menundukkan Iran secara militer. Dengan kekuatan militer yang ditunjukkan oleh Iran, termasuk posisi geografis, geopolitik, serta dukungan politik dalam negeri memosisikan Iran akan menjadi jawaban sekaligus kuburan bagi kecongkakan Amerika dan Israel. Dunia menyaksikan bagaimana persenjataan Iran, yang dibangun saat mereka dibelenggu secara ekonomi, mampu menembus pertahanan iron dome mahal milik Israel dan sejumlah pangkalan militer milik Amerika yang dipastikan canggih.
Sekali lagi, perang di Iran kali ini juga menjadi pelajaran sekaligus fakta yang memperolok kita semua di Indonesia. Berita tentang perang Iran ini membuat kita paham berapa nilai persenjataan canggih yang terlibat di dalam perang Iran ini.
Singkat saja, tidak untuk membandingkan antara kekuatan Iran, Israel, atau Amerika. Jika perang Iran ini masih boleh kita anggap sebagai workshop atau pameran persenjataan canggih, kita jadi tahu harga-harga dan label yang menempel di alat perang ini.
Amerika Serikat memiliki 11 kapal induk canggih berbagai varian dengan tenaga nuklir. Satu kapal induk paling canggih berbanderol 13 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 200 triliun. Untuk koleksi pesawat tempur, Amerika terdata memiliki 1.700 hingga 2.300 unit. Salah satunya adalah varian Lockheed Martin F-35 Lightning II, yang ternyata harganya tak lebih dari satu hari biaya MBG di negeri kita. Harganya sekitar 77,9 juta dolar AS atau sekitar Rp 1,12 triliun sampai Rp 1,9 triliun.
Lompat ke Iran, yang mengoleksi sejumlah rudal balistik dan hipersonik. Rudal hipersonik Fattah-1 harganya 500 ribu dolar AS atau setara dengan Rp 7,9 miliar. Adapun rudal balistik Khorramshahr biaya produksinya sekira 8 juta dolar AS atau Rp 126 miliar.
Mengintip sistem pertahanan iron dome yang dimiliki Israel, harganya dibanderol sekira 100 juta dolar AS atau setara dengan Rp 1,5 triliun.
Pertunjukan ‘kembang api’ perang rudal di Timur Tengah ini bagi saya lebih daripada perang Iran, melainkan olok-olok terhadap negeri kita. Melihat “pameran persenjataan” dalam perang Iran tersebut, membuat saya yakin bahwa kita terlalu terbelakang. Istilah tersebut sejujurnya sebagai pengganti untuk menyebut kita terlalu bodoh, versi Rocky Gerung.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Ibnu-Taufik.jpg)