TRIBUN JATENG HARI INI
Hukam Sebut Komunikasi Terbatas Setelah Pemerintah Iran Matikan Internet
Sebanyak 22 WNI berhasil dievakuasi dari Iran, menyusul eskalasi konflik berdarah pascaserangan Amerika Serikat dan Israel ke negara tersebut.
Penulis: Achiar M Permana | Editor: M Syofri Kurniawan
TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Sebanyak 22 WNI berhasil dievakuasi dari Iran, menyusul eskalasi konflik berdarah pascaserangan Amerika Serikat dan Israel ke negara tersebut.
Mahasiswa asal Banyumas, Ahmad Hukam Mujtaba, turut dalam gelombang pertama WNI yang berhasil diselamatkan dari zona konflik.
Hukam masih mengingat dengan jelas momen ketika kabar serangan pertama Amerika Serikat dan Israel ke Iran muncul.
Saat itu, ia sedang berkumpul bersama para pelajar lain di Iran.
Peristiwa tersebut terjadi pada Jumat sore, bertepatan dengan 2 Ramadan atau sekitar 20 Februari 2026.
"Hari itu aktivitas kampus masih berjalan seperti biasa. Bahkan ada kegiatan yang digelar di lingkungan kampus. Namun keesokan harinya, pada Sabtu bertepatan dengan 2 Ramadan, serangan mulai terjadi," kata Hukam kepada Tribun Jateng, Rabu (11/3/2026).
Saat itu, kata Hukam, belum ada instruksi khusus yang diterima mahasiswa Indonesia.
Mereka hanya mendapat imbauan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk meningkatkan kewaspadaan.
Imbauan tersebut juga berkaitan dengan situasi yang sebelumnya sempat memanas pada Januari, ketika terjadi aksi damai di Iran.
Situasi semakin berubah, ketika pada 1 Maret 2026, muncul pengumuman mengenai imbauan evakuasi atau mengungsi secara mandiri.
"Pada saat yang sama, jaringan internet di Iran mulai dimatikan. Kondisi ini membuat komunikasi menjadi sangat terbatas,” kata mahasiswa asal Desa Sirau, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas tersebut.
“Komunikasi memang terbatas. Waktu perang tidak bisa berkomunikasi bebas. Sebelum internet mati kami sudah menyampaikan kepada orang tua bahwa komunikasi akan terganggu," sambungnya.
Hukam mengatakan, komunikasi yang tersisa saat itu hanya melalui telepon seluler biasa.
Namun jaringan tersebut pun tidak bisa digunakan untuk berkomunikasi ke luar negeri. Meski begitu, orang tuanya di Indonesia telah memahami situasi tersebut.
“Tahun sebelumnya Iran juga sempat mengalami konflik sehingga keluarga sudah cukup memahami kemungkinan gangguan komunikasi, jika situasi memanas kembali,” kata mahasiswa S2 Jurusan Sejarah di Ahlul-Bayt International University (ABU), Teheran, tersebut.
| Ada Tikus Melompat dari Box Ompreng MBG di SMKN 8 Semarang |
|
|---|
| Perdagangan Saham Justru Melonjak di Tengah Pelemahan IHSG |
|
|---|
| Sekuritas Imbau Investor Tenang Hadapi Pelemahan IHSG: Jangan Pilih 'Gorengan' Saja |
|
|---|
| Komisaris Tertipu Rp 78 Miliar Investasi Walet Fiktif di Semarang |
|
|---|
| Sikapi Anjloknya IHSG, Investor Perlu Perhatikan Psikologi Pasar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Tribun-Jateng-Hari-Ini-Jumat-13-Maret-2026.jpg)