Fokus

Fokus: Pertemuan yang Jadi Sinyal Penyejuk Dahaga

Gus Yahya menyampaikan skala prioritas kepemimpinannya membangun NU dengan lebih melibatkan secara aktif merangkul berbagai komponen bangsa sesuai kar

Penulis: m nur huda | Editor: m nur huda
Grafis:Tribunjateng/Dok
Tajuk Ditulis Oleh Jurnalis Tribun Jateng, M Nur Huda 

Tajuk Ditulis Oleh jurnalis Tribun Jateng, M Nur Huda

TRIBUNJATENG.COM - Jelang buka puasa, Rabu, 6 April 2022, terjadi pertemuan antara Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dengan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya dan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Yaqut.

Pertemuan sekira 2,5 jam di kediaman Megawati di Teuku Umar, Jakarta tersebut menurut Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP Hasto Kristiyanto, merupakan silaturahmi sekaligus membahas hal-hal strategis bagi masa depan bangsa dan Negara.

Selain Gus Yahya dan Gus Yaqut, dalam pertemuan yang dibalut dalam suasana akrab dan penuh semangat persaudaraan itu hadir pula Sekjen PBNU Saifullah Yusuf, dan Bendahara Umum PBNU Mardani Maming.

Gus Yahya menyampaikan skala prioritas kepemimpinannya membangun NU dengan lebih melibatkan secara aktif merangkul berbagai komponen bangsa sesuai karakter dan kultur NU.

Kemudian Gus Yaqut yang juga Ketua Umum PP GP Ansor menyampaikan berbagai tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam mewujudkan kohesivitas berbangsa yang satu. Ia meminta Pancasila betul-betul dipahami semangatnya dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang rukun, aman dan bergotong royong.

Semua menyepakati pentingnya menggandeng seluruh komponen bangsa agar membangun kesadaran terhadap berbagai ancaman yang bersifat ideologis yang bertujuan memecah belah bangsa.

Menurut Hasto, PDIP memandang NU memiliki peran besar dalam sejarah perjuangan bangsa. Dalam catatan PDIP, sejarah kepeloporan NU sejak berdiri 1926 memiliki visi membangun semangat kebangsaan, menggelorakan tekad perjuangan kemerdekaan Indonesia melawan penjajah. Serta berperan sangat penting dalam konsolidasi negara guna membangun kepemimpinan Indonesia bagi dunia.

Selain itu, NU juga dinilai berperan sentral sebagai perekat bangsa dan berkomitmen membumikan Pancasila serta konstitusi dalam seluruh aspek kehidupan.

Masyhur diketahui, antara PDIP dengan NU memiliki diktum takdir dari unsur berbeda namun memiliki semangat bersama saling melengkapi dalam bingkai NKRI demi peradaban dunia. 

NU merupakan komunitas yang memegang teguh mazhab dan manhaj dalam beragama melalui jalur adaptasi budaya Nusantara. Sementara PDIP merupakan sintesis kekayaan lokal dari hasil perenungan atas nilai-nilai luhur yang tumbuh di Nusantara. 

Perpaduan antara komunitas berpemahaman religi yang kuat dengan komunitas berpegang pada nilai-nilai luhur lokal ini akhirnya membentuk jati diri bangsa yang kuat dan berkarakter. Kebersamaan ini kita yakin tentu atas dasar pemahaman yang sama, Hubbul Wathon Minal Iman, Cinta Tanah Air Sebagian dari Iman.

Sinergi keduanya di masa mendatang diharap mampu membawa kemaslahatan yang lebih besar untuk bangsa, negara, dan manusia sekaligus penyejuk di tengah dahaga perdamaian akibat geopolitik internasional.

Dalam satu kesempatan bahkan Megawati menyebut, jika PDIP dapat terus berjalan beriringan dengan NU, maka segala ancaman kebangsaan pasti bisa diatasi. Selain tentunya dapat menciptakan hal-hal baik yang luar biasa, pada saat ini dan masa depan.

Semangat dasar yang sama dalam garis perjuangan ini diharapkan mampu membawa kemaslahatan yang besar untuk bangsa, negara, dan untuk kemanusian.(*Tribun Jateng Cetak)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved