Kamis, 30 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Program PINTAR

Rapor Pendidikan Meresahkan, Tanoto Foundation Siap Beri Solusi

"Perlu kerjasama dari semua pihak, perhatian serius bagi satuan pendidikan agar disorientasi ini menjadi sorotan bersama,” ungkap Muslikhan.

Tayang:
Editor: abduh imanulhaq
TANOTO FOUNDATION
(Dari kiri) PC Tanoto Foundation Nurkolis, Kasi Penma Kemenag Muslikhan, dan Sekretaris Disdikbud Kab. Kendal Sutadi 

TRIBUNJATENG.COM, KENDAL - Tanoto Foundation hadiri pertemuan di aula Ki Hajar Dewantara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kendal.

Pertemuan ini dihadiri oleh Koordinator Tanoto Foundation Jawa Tengah - Dr. Nurkolis, M.M, Spesialis ME – Wahyu Daryono, Sekretaris Disdikbud – Sutadi, Kasi Pendidikan Madrasah (Penma) Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kab. Kendal – Muslikhan, para kepala sekolah dan pengawas, serta fasilitator program PINTAR Tanoto Foundation.

Dalam rapat pemangku kepentingan tersebut, Disdikbud Kendal menyampaikan rapor pendidikan yang dikeluarkan oleh Kemendikbud baru-baru ini.

Dilaporkan bahwa kondisi pendidikan di tingkat SD-MI dan SMP-MTs telah mencapai peningkatan yang baik, seperti karakter siswa yang telah mencerminkan nilai-nilai pancasila serta kondusifnya keamanan, kesetaraan gender, dan kebinekaan dalam lingkungan sekolah.

Namun, dalam penyampaiannya hasil rapor pendidikan tersebut masih ada poin-poin yang masih menyita perhatian.

Misalnya saja dalam konteks kualitas pembelajaran.

Muslikhan mengatakan bahwa guru belum sepenuhnya konsisten merefleksikan pembelajaran, mengeksplorasi referensi pengajaran baru, dan mencetuskan inovasi baru.

Nurkolis memimpin diskusi dalam rapat pemangku kepentingan Program PINTAR Tanoto Foundation
Nurkolis memimpin diskusi dalam rapat pemangku kepentingan Program PINTAR Tanoto Foundation (Istimewa)

Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran masih bersifat sporadis dan hanya sekadar menyelesaikan tugas guru.

Kurang optimalnya guru dalam mengeksekusi tiga hal tersebut, disinyalir menjadi salah satu penyebab kemacetan peningkatan keterampilan literasi numerasi siswa.

Asumsi tersebut dipicu oleh adanya fakta laporan mengenai kemampuan literasi dan numerasi, bahwa kurang dari 50% siswa dapat mencapai batas kompetensi minimum.

Poin terakhir yang menjadi catatan khusus adalah kepemimpinan instruksional tingkat SMP-MTs.

Salah satunya adalah bentuk kepemimpinan yang belum sepenuhnya mengacu pada visi misi sekolah.

Muslikhan juga menambahkan bahwa pemerataan hasil belajar murid berdasar wilayah urban rural terkait kompetensi literasi, numerasi, dan indeks karakter, masih belum ada perbedaan.

Hasil yang sama juga didapatkan pada upaya pemerataan hasil belajar berdasarkan kelompok sosial ekonomi.

"Perlu kerjasama dari semua pihak, perhatian serius bagi satuan pendidikan agar disorientasi ini menjadi sorotan bersama,” ungkap Muslikhan.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved