Berita Sragen
Video Memahami Kehidupan Manusia Purba dari Museum Sangiran
Jauh sebelum manusia modern ada, bumi ini sudah dihuni manusia purba (Homo Erectus) dengan lingkungannya, binatang dan tumbuhan purba.
Penulis: khoirul muzaki | Editor: abduh imanulhaq
Fosil dengan nama Sangiran 17 itu sekaligus menjadi masterpiece nya Sangiran karena menjadi rujukan penting dalam rekonstruksi figur Homo Erectus Jawa.
Masih ada Ruang Pamer 2. Di sini, pengunjung bisa mendapatkan informasi awal terbentuknya alam semesta dalam bentuk film pendek.
Ruang ini juga didukung koleksi fosil dari Sangiran, artefak, dan diorama untuk menjelaskan informasi ke pengunjung.
Ruang Pamer 3 tak kalah menarik. Ruangan ini adalah diorama yang menggambarkan kehidupan Homo Erectus di masa keemasannya, sampai 500.000 tahun lalu.
Di sini ditampilkan rekonstruksi Homo Erectus dari temuan Sangiran 17, serta manusia Leang Bua dari Flores.
“Untuk tiket masuk pengunjung ke museum, tarifnya Rp 8000,”katanya
Museum Manusia Purba Sangiran bisa dijangkau mudah dari arah Solo (Surakarta) maupun Sragen. Dari kota Sragen, kawasan situs ini bisa ditempuh dengan perjalanan darat sejauh sekitar 30 kilometer atau sekitar 40 menit. Dari Solo, Sangiran bisa ditempuh menggunakan transportasi darat sejauh sekitar 20 kilometer.
Selain menikmati perjalanan wisata, wisatawan bisa membawa pulang buah tangan atau souvenir khas Sangiran. Di sepanjang jalan menuju museum, serta di dalam komplek museum, banyak lapak souvenir yang dijajakan warga sekitar.
Di antara souvenir khas itu adalah aksesoris berbahan batu serta fosil kayu asli Sangiran. Aksesoris itu dijual dengan kisaran harga puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah. Warga sekitar juga sebagian menyediakan tempat penginapan (homestay) dengan tarif sekitar Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu.
“Batu asli sini. Kalau pembuatannya ada yang dari luar, karena di sini gak ada alatnya,”kata rahmadi, pedagang souvenir di komplek museum. (aqy)