Senin, 18 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tadarus

Puasa Menjadi Penawar Hawa Nafsu

Nafsu adalah kecenderungan tabiat kepada sesuatu yang dirasa cocok. Kecenderungan ini merupakan satu bentuk ciptaan yang ada dalam diri manusia

Tayang:
Editor: rustam aji
dok.pribadi
Khoirul Muslimin, Dosen Unisnu Jepara/ Ketua Lakpesdam PCNU Kabupaten Jepara 

Sebagaimana yang disebutkan dalam Alqur’an  “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (Q.S. Yusuf: 53).

Apabila sesorang membiasakan mengerjakan tiga hal tersebut, tentu nafsu binal itu akan menurut, dengan izin Allah SWT.

Dengan demikian, seseorang akan terbebas dan selamat dari kejahatan nafsunya. Apabila manusia dikuasai oleh hawa nafsunya, ia akan terjatuh kedalam tingkatan yang terendah, sehingga tidak ada tempat lagi selain bersama hewan.

Tetapi apabila mampu mengatasinya, maka akan mudah untuk mengatur dan mengendalikannya.

Disampaikan oleh AL-Ghazali dalam Ihya’ Ulumudin manusia apabila dikuasi oleh sifat kemarahan, maka akan melakukan perbuatan-perbuatan binatang buas, yaitu permusuhan, kemarahan, dan serangan terhadap manusia lain dengan pukulan dan makian.

Sekiranya manusia dikuasi oleh nahfu syahwat, maka akan melakukan perbuatan-perbuatan  hewan seperti kerakusan, kelobaan, kesangatan nafsu syahwat.

Oleh sebab itu, Allah SWT mengkaitkan banyak masalah penting kehidupan dengan hawa nafsu karena hawa nafsu merupakan potensi yang disimpan Allah SWT  pada diri setiap manusia.

Manusia akan mengeluarkannya bila dibutuhkan. Seperti juga Allah SWT  telah meletakkan berbagai energi dalam perut bumi untuk bahan makanan, pakaian dan beragam prasarana kehidupan lainnya.

Begitu pula dengan air dan oksigen yang sangat dibutuhkan manusia

Dengan demikian, puasa mampu memjadi ‘penawar’ hawa nafsu manusia, sehingga manusia dalam belum ramadan lebih banyak berbuat kebajikan dibading melakukan kejahatan.

Banyak kegiatan-kegiatan yang bersifat positif yang mendekatkan diri kepada Allah swt. Mari kita jadikan bulan ramadan sebagai bulan membersihkan diri dari segala bentuk kejahatan. Sehingga tercipta manusia yang kamil. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved