Minggu, 17 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tadarus

Revolusi Pendidikan untuk Indonesia Maju

Mengapa perintah pertama adalah perintah membaca bukan perintah salat, zakat, puasa, haji dan ibadah lainnya?. Karena kita harus mengetahui ilmunya

Tayang:
Editor: rustam aji
dok. Unissula
Prof Dr H Ustad Gunarto SH MHum Rektor Universitas Islam Sultan Agung, Semarang 

Dua, lakukan pencarian terhadap ilmu-ilmu modern dan yang ketiga lakukan pendekatan filsafat dalam ilmu pengetahuan tersebut.

Konsep seperti itu hendaknya menjadi bahan renungan dan pemikiran bersama untuk saat ini dan kedepannya dalam mengembangkan pendidikan agar mampu melahirkan insan- insan religius yang profesional dan di saat yang sama mampu melahirkan insan- insan profesional yang religius.

Budaya akademik

Dalam konteks itu apa yang dilakukan Unissula misalnya menjadi sebuah hal yang menarik.

Tepatnya ketika Unissula membulatkan tekad mendeklarasikan Budaya Akademik Islami pada tahun 2005 sebagai strategi pendidikannya. Maka sejak saat itu haluan dan paradigma pendidikannya berubah total.

Yaitu dimulainya pendidikan yang berdasar atas tata nilai-nilai Islam. Artinya membangun paradigma baru dalam pendidikan. Paradigma baru mengharuskan mengembangkan ilmu dan teknologi dengan melaksanakan rekonstruksi ilmu atas dasar nilai-nilai Islam agar arah pengembangan ilmu ke depan sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Pada praktiknya, pendidikan di Unissula yang berlandaskan Islam memiliki tugas utama yakni melahirkan generasi khaira ummah. Yakni generasi terbaik yang Allah potensikan mampu memimpin dunia.

Budaya Akademik Islami berisi dua hal fundamental yaitu penguatan ruhiyah dan penguatan iptek.

Penguatan ruhiyah adalah penguatan akidah, ibadah dan akhlak yang dikemas dalam gerakan pembudayaan yang meliputi gerakan shalat berjama’ah, gerakan berbusana Islami, gerakan toharah, gerakan keteladanan, gerakan keramahan islami, dan gerakan kualitas hidup.

Penguatan iptek terdiri atas semangat iqra’, mengembangkan iptek atas dasar nilai-nilai Islam, islamic learning society, dan apresiasi iptek.

Semoga model pendidikan seperti itu semakin banyak diadopsi di dunia pendidikan dan memberikan sumbangan nyata dalam membangun kwalitas SDM Indonesia.

Terlebih menjelang 100 tahun Indonesia emas pada tahun 2045 mendatang. Indonesia tentu lebih banyak membutuhkan SDM yang profesional yang religius serta SDM yang religius yang profesional. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved