Tadarus
Memaknai Ramadan sebagai sebuah Madrasah
Sebagai negara dengan multi etnis dan agama, Ramadan bagi muslim merupakan madrasah kedermawanan sosial untuk memperkokoh toleransi berbasis keimanan.
Sholahuddin, SS, MA, Ketua Aswaja NU Center Jepara & Kepala Madrasah Aliyah NU Al-mustaqim Bugel Kedung Jepara.
TRIBUNJATENG.COM - Perintah doktrinal puasa ramadan sehingga berujung kepada visi La’allakum Tattaqun perlu untuk dicamkan oleh umat Islam.
Puasa sebagai laku spiritual sebetulnya merupakan ritual yang berlaku pada semua umat beragama sebelum Islam. Prof Komaruddin Hidayat---Mantan rektor Universitas Islam Syarif Hidayatullah---pernah mengatakan bahwa puasa merupaka starting point untuk menuju kepada derajat ketakwaan kepada Allah SWT.
Pertanyaanya, dapatkah puasa ramadan tahun ini merubah perilaku kita.
Atau hanya sekedar serangkaian ritual yang kita lakukan karena sebuah keterpaksaan atau untuk menggugurkan perintah Allah SWT.
Kasus kelangkaan minyak goreng di pasaran serta maraknya radikalisme dikalangan Remaja membuat kita perlu tertegun reflektif untuk muhasabah di sepuluh kedua bulan ramadan yang mulia ini,
Seharusnya, Puasa menjadi jeda universal bagi umat Islam untuk merefleksikan kembali tentang eksistensialismenya.
Man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu (barangsiapa yang mengetahui dirinnya maka dia sungguh telah mengetahui Tuhannya).
Sebagai sebuah ibadah yang sangat private, puasa menjadikan umat Islam bisa mengatur dan mengkontrol sifat dan ketamakan yang menjadi basis dari segala sifat tercela.
****
Minimnya nilai-nilai altruistik yang menjadi kebajikan bersama diruang publik hampir jamak kita temui diberbagai macam sudut kehidupan.
Salah satu contoh adalah apa yang pernah dikemukakan oleh budayawan Mohamad Sobary yaitu pilihan untuk bersabar, misalkan tidak mengambil yang bukan hak padahal kesempatan itu ada.
Tetap konsisten dalam kesederhanaan ditengah gebyar dunia yang membahana. Inilah yang menjadi tantangan kita dalam membumikan visi puasa ramadan.
Puasa ramadan sejatinya tidak hanya menahan dari lapar dan dahaga, lebih dari itu adalah apa yang disebut dalam khazanah Islam dengan shiyamul jawarih, yaitu puasa yang dibarengi dengan pengekangan terhadap anggota tubuh manusia, puasa lisan adalah meninggalkan ucapan yang kotor dan menyakitkan orang, puasa pendengaran berarti hanya mendengarkan sesuatu yang diperbolehkan oleh syara’, puasa kedua mata adalah berarti meninggalkan untuk melihat sesuatu yang diharamkan oleh Allah dan seterusnya.
Inilah puasa yang benar-benar berimplikasi kepada tindakan nyata yaitu kesalehan sosial dan individual sekaligus.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/kiai-sholahuddin.jpg)