Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

FOKUS

FOKUS : Kelas Unggulan

MENUJU tahun ajaran 2022/2023, sejumlah sekolah mulai disibukkan mempersiapkan diri menyambut para peserta didik barunya melalui sistem Penerimaan Pes

Penulis: deni setiawan | Editor: Catur waskito Edy
tribunjateng/grafis/bram
Deni Setiawan Wartawan Tribun Jateng 

oleh Deni Setiawan

Wartawan Tribun Jateng

MENUJU tahun ajaran 2022/2023, sejumlah sekolah mulai disibukkan mempersiapkan diri menyambut para peserta didik barunya melalui sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).

Seperti di tahun sebelumnya, sekolah tetap akan mengacu pada Permendikbud Nomor 1 Tahun 2021, dimana ada empat jalur yang akan digunakan. Yakni afirmasi, zonasi, prestasi, dan perpindahan tugas orangtua.

Di antara empat jalur itu, satu yang masih disorot hingga saat ini adalah jalur zonasi. Tak sedikit orangtua tak sependapat dan sekolah yang sebelumnya dianggap favorit pun mendadak loyo.

Secara umum, pemerintah memiliki tujuan mulia. Memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi warga negara usia sekolah untuk memperoleh layanan pendidikan berkualitas.

Bahasa lebih simpelnya adalah agar ada pemerataan tanpa diskriminatif, dan lebih kompetitif antara sekolah yang berada di perkotaan maupun di pedesaan. Di sisi lain, adanya zonasi, para calon siswa dan orangtua lebih diuntungkan karena bisa menimba ilmu di sekolah dekat tempat tinggalnya.

Meskipun demikian, tetap saja ada orangtua yang merasa kebijakan tersebut dirasa belum adil. Anak yang memiliki nilai mumpuni dan mestinya bisa masuk ke sekolah favorit, harus pasrah akibat pemberlakukan zonasi.

Seperti diungkap Wakil Ketua DPRD Jateng, Quatly Abdulkadir Alkatiri. Hingga saat ini dirinya memperoleh banyak aspirasi dari masyarakat mengenai ketidakadilan jalur zonasi dalam PPDB.

Terlepas dari hal tersebut, ada satu solusi yang menarik sebagai siasat bagi sekolah-sekolah favorit. Yakni melalui pembukaan kelas unggulan. Meski di satu sisi pula, akan kembali menimbulkan pro-kontra.

Pembukaan kelas unggulan bisa menjadi wadah bagi para calon siswa berprestasi agar lebih fokus dalam menata sekaligus sebagai bekal melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Seperti yang disampaikan Bupati Kudus, HM Hartopo. Inovasi perlu dilakukan oleh sekolah-sekolah favorit agar tidak menurunkan kualitas pendidikan yang telah diraihnya.

Tak dimungkiri olehnya, karena adanya zonasi, tak sedikit sekolah menjadi loyo. Kualitas pendidikan terus menurun dari yang sebelumnya telah diraih. Sehingga perlu menghadirkan inovasi.

“Yakni sebuah terobosan untuk menyeleksi siswa yang dianggap berpotensi dengan membuat kelas unggulan. Sehingga pula sekolah dapat tetap mencetak siswa berprestasi dan ikon sekolah tetap terjaga,” kata Hartopo.

Bahwa anak berbakat dan cerdas memang perlu mendapatkan perhatian khusus untuk dapat dikembangkan, namun di satu sisi dianggap ketika terjadi pengelompokan siswa secara homogen tersebut bisa berdampak kesenjangan.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved