Kamis, 9 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Kudus

Uji Tar dan Nikotin di Laboratorium Kompleks KIHT Kudus Butuh Waktu Tujuh Hari

Sekali melakukan uji tar dan nikotin, katanya, pihaknya bisa melakukan pengujian terhadap dua sampel sekaligus

Penulis: Rifqi Gozali | Editor: muslimah
Istimewa
petugas laboratorium, Nofita Megasari, tengah melakulam uji tar dan nikotin di laboratorium yang terletak di kompleks KIHT Kudus. 

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Uji sampel di laboratorium di kompleks Kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT) Kudus membutuhkan waktu selama tujuh hari kerja sejak awal dilakukan pengujian.

Sebab, proses yang harus dilalui dalam pengujian sampel rokok cukup kompleks.

Biasanya untuk uji tar dan nikotin ini pabrik rokok mengirimkan minimal dua slop rokok.

Untuk pemrosesan uji tar dan nikotin, awal mula sampel rokok itu dilakukan pengondisian melalui alat climatic chamber. Sehingga suhu sampel 22 derajat celsius dan kelembapannya 60 persen.

“Pengondisian sampel ini butuh waktu selama dua hari atau 48 jam,” ujar analis laboratorium, Nofita Megasari.

Proses berikutnya sampel rokok yang telah dikondisikan dihidap menggunakan smoking machine hingga menjadi ekstrak asap dan diketahui hasil total particular matter.

Ekstrak tersebut kemudian diuji menggunakan cairan kalibrasi atau dilarutkan sehingga menjadi ekstrak nikotin. Baru setelahnya diuji menggunakan gas kromatografi sehingga keluar kadar nikotinnya melalui sistem komputer.

“Kemudian untuk kadar tarnya dihitung menggunakan sistem computer,” kata Nofita.

Sekali melakukan uji tar dan nikotin, katanya, pihaknya bisa melakukan pengujian terhadap dua sampel sekaligus.

“Karena memang kapasitas alatnya untuk kapasitas dua sampel dalam sekali kerja,” kata dia.

Nofita mengatakan, dari pengalamannya melakukan uji kandungan tar dan nikotin biasanya untuk sigaret kretek mesin (SKM) kandungan nikotinnya 2 miligram dan kandungan tarnya 20 miligram. Sedangkan untuk sigaret kretek tangan (SKT) biasanya kandungan nikotinnya lebih dari 2 miligram, dan kandungan tar bisa lebih dari 30 miligram.

“Karena kalau SKM itu ada filternya itu menyerap, makanya kadar kandungan nikotin dan tar lebih rendah,” kata dia.

Untuk sampel yang akan diuji, kata Nofita, sampai saat ini terus ada. Sampel yang diuji sekarang datang dari pabrik rokok yang ada di Kudus dan wilayah sekitarnya. Misalnya dari Jepara. Meski begitu dia juga beberapa kali melakukan uji sampel yang dikirim dari daerah Jawa Timur, bahkan dari luar Jawa. Sampel-sampel yang diuji itu merupakan merk baru yang akan diedarkan oleh pabrik rokok. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved