Minggu, 26 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Banyumas

Alat Musik Bambu Gandalia Asli Banyumas Terancam Punah, Hanya Ada 4 Orang yang Mahir Memainkan

Irama yang dihasilkan terdengar begitu unik meski hanya menggunakan empat tangga nada pentatonis yaitu ro (2), lu (3), mo (5) dan nem (6)

Penulis: Imah Masitoh | Editor: muslimah
TribunJateng.com/Imah Masitoh
Kusmarja penggiat kesenian Gandalia sedang memainkan alat musik Gandalia asli Banyumas di depan rumahnya, Rabu (22/6/2022). 

TRIBUNJATENG.COM, BANYUMAS - Seorang pria berusia 74 tahun yang akrab dengan sapaan Ki Kusmarja, warga grumbul Bonjok Wetan, Desa Tambaknegara, Kecamatan Rawalo, Banyumas giat melestarikan kesenian musik Gandalia

Kesenian musik tradisional Gandalia asli Banyumas ini sudah mulai jarang ditemui saat ini. Alat musik Gandalia terbuat dari bambu dengan panjang 50-60 sentimeter dan berdiameter kurang lebih 6 sentimeter. 

Irama yang dihasilkan terdengar begitu unik meski hanya menggunakan empat tangga nada pentatonis yaitu ro (2), lu (3), mo (5) dan nem (6). 

Sekilas rupa alat musik ini terlihat seperti angklung yang dimainkan dengan cara digoyangkan. Gandalia ini memiliki ukuran bentuk yang lebih besar dibandingkan angklung.

Baca juga: WHO Tentukan Klasifikasi Perhatian Dunia soal Cacar Monyet Hari Ini

Baca juga: Heboh Fenomena Planet Sejajar Besok 24 Juni, Benarkah Berdampak bagi Bumi?

Namun bila dilihat lebih detil, cara memainkan alat musik ini selain digoyangkan juga butuh keterampilan kedua tangan dalam membuka dan menutup setiap nada yang ingin dihasilkan. 

"Yang dibunyikan dibuka, kalau tidak dibunyikan ditutup. Secara bersamaan ini juga digoyangkan secara lurus dan tempo yang sama," kata Ki Kusmarja kepada Tribunjateng.com, Rabu (22/6/2022). 

Dahulu Gandalia ini dimainkan oleh petani desa untuk mengusir hewan pengganggu tanaman-tanaman mereka seperti babi, burung, dan kera. 

"Awalnya dulu buat tunggu di alas (ladang) banyak hewan pengganggu. Dulu lagunya belum di kolaborasi masih nyanyi sendiri-sendiri saja," tambahnya. 

Seiring berjalannya waktu kesenian ini semakin dikenal masyarakat desa untuk dipentaskan dan mulai menggunakan lagu-lagu seperti Cucuk Benik, Jo Liyo, Eling-eling, dan Lir-ilir. 

Sudah berkecimpung dalam dunia kesenian Gandalia puluhan tahun, Kusmarja mengaku khawatir saat ini pemuda di desanya belum ada yang mahir memainkan alat musik ini. Karena dalam berlatih alat musik ini diperlukan kesabaran dan ketelatenan. 

"Susah melatih anak sekarang. Terkadang ada yang latihan di sini, tapi sepertinya belum ada yang mahir, dan pada kurang telaten," ungkapnya. 

Kesenian Gandalia saat ini hanya ada 4 orang saja di desanya yang mampu memainkan kesenian yang satu ini. 

"Saya dulu latihan dari kakek saya Bangsa Setra seorang penayangan. Sekarang cuma ada empat dengan saya saja," ungkapnya. 

Kecintaannya pada kesenian Gandalia, meski kesulitan regenerasi pada kesenian ini, Ki Kusmarja bertekad tetap harus ada yang mau meneruskan kesenian ini, mengingat ke 4 orang yang saat ini mampu memainkan Gandalia sudah berusia lanjut. 

"Saya coba menelateni putu (cucu) saya untuk meneruskan saya nantinya. Karena untuk bermain alat musik ini dibutuhkan rasa juga," tambahnya. 

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved