Liputan Khusus
Dalih Ruangan Penuh, Sunaryo Terpaksa Naik Kelas Dibebani Biaya Tambahan
Serangan struk membuat Sunaryo tak berkutik, dan harus menginap empat hari di rumah sakit. Selama menjalani perawatan, pria 71 tahun itu menginap di
Penulis: budi susanto | Editor: m nur huda
Sementara itu, Pamungkas anak ke dua Sunaryo, menuturkan, pihak keluarga tak ada pilihan saat Sunaryo diberi dua pilihan.
"Sebenarnya agak janggal juga, seolah pilihannya harus naik kelas. Karena tidak mungkin ayah saya dirawat di rumah, wong jalan saja tidak mampu," jelasnya.
Meski biaya tambahan terbilang tak terlalu mahal, namun Pamungkas mengatakan, untuk masyarakat yang tidak mampu pastinya memberatkan.
"Heran saya acapkali rumah sakit kehabisan ruang dan memberikan pilihan naik kelas atau pulang, beberapa kali saya juga mengalami hal itu, selain ayah saya, saudara yang perlu perawatan medis juga diberi pilihan sama,"imbuhnya.
Pamungkas juga menanggapi wacana penghapusan kelas BPJS Kesehatan yang rencananya diterpakan Juli mendatang.
Kelas-kelas tersebut akan digantikan ke Kelas Rawat Inap Standar (KRIS), dan iuran disesuaikan dengan besaran gaji peserta.
"Kalau masalah iuran dan penghapusan kelas bagi saya tidak masalah, namun apakah pemerintah juga menjamin tidak akan ada biaya tambahan lagi, atau jangan-jangan rumah sakit berdalih kehabisan ruang lagi," tegasnya.
Dari pengalaman yang Pamungkas alami, ia berharap pemerintah bisa memberi kepastian jaminan kesehatan yang benar-benar sepenuhnya mengkover layanan kesehatan.
"Selama ini rasanya baru setengah-setengah, tapi tidak ada pilihan lain, karena jaminan kesehatan juga sangat membantu masyarakat," kata Pamungkas.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Kartu-Kepesertaan-BPJS-Kesehatan.jpg)