Opini
Opini Syahrul Kirom MPhil : Memilih Pemimpin di Pilpres 2024
TAHAPAN Pemilu dan Pilpres 2024 telah dimulai, dan bursa calon presiden mulai beredar di ruang publik. Bangsa Indonesia tentu membutuhkan pemimpin yan
Opini Ditulis oleh Syahrul Kirom, MPhil (Alumni Pascasarjana Ilmu Filsafat UGM)
TRIBUNJATENG.COM - TAHAPAN Pemilu dan Pilpres 2024 telah dimulai, dan bursa calon presiden mulai beredar di ruang publik. Bangsa Indonesia tentu membutuhkan pemimpin yang berkualitas. Karena itu, calon pemimpin bangsa Indonesia yang maju harus benar-benar orang memiliki leadership yang bagus, jujur dan terpercaya, transparan, adil, amanah serta mampu menunjukkan keberpihakannya pada rakyat kecil.
Karena itu, rakyat Indonesia harus benar-benar bisa menentukan pilihanya untuk mencari pemimpin ideal (satria pinilih) yang bisa membawa perubahan bangsa Indonesia ke arah kemajuan yang lebih baik.
Pertanyaan secara filosofis adalah siapakah calon presiden yang ideal?
Arwan Tuti Artha dalam karyannya “Satria Pinilih : Siapa Pantas Jadi Ratu Adil ?” menjelaskan kriteria seorang pemimpin ideal dalam perspektif falsafah Jawa, yang bisa membawa republik nusantara ini pada kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya. Dengan begitu, masyarakat Indonesia bisa menentukan sosok calon kepala daerah berdasarkan falsafah Jawa? Agar rakyat Indonesia tidak salah dalam memilih pemimpinnya.
Falsafah Jawa
Falsafah Jawa mengajarkan bahwa seseorang akan menjadi pemimpin jika ia mendapatkan wahyu kedaton. Raja-raja kerajaan Jawa mendapatkan wahyu kedaton berkah dari kekuatannya yang luar biasa, raja tidak lain adalah para “super jago” atau orang pilihan.
Dalam konteks negara demokrasi, Raja tidak lain adalah Satria Pinilih yaitu calon presiden 2024. Sementara wahyu yang harus didapat dari Satria Pinilih adalah berupa dukungan rakyat mayoritas, untuk itu wahyu kepala daerah tidak lain adalah rakyat, karena dalam sistem demokrasi suara rakyat adalah suara Tuhan.
Falsafah Jawa mengajarkan kepemimpinan bukan monopoli beberapa orang, sebab Tuhan memberi kesempatan kepada siapa saja. Yang berhak menjadi Satria Pinilih adalah mereka yang selalu berupaya, berusaha, dan berjalan menuju kesempurnaan. Orang yang demikian nantinya berhak menjadi Satria pinilih, yaitu menjadi orang pilihan. Menjadi pilihan rakyat kecil, wong cilik.
Pada saatnya nanti jelang Pilpres 2024, rakyat Indonesia akan dihadapkan pada persoalan menentukan pemimpin baru bangsa Indonesia untuk periode lima tahun ke depan. Agar rakyat tidak salah dalam menentukan pemimpin. Ada beberapa kriteria dan konsep dalam kepemimpinan jawa yang kiranya perlu diperhatikan oleh rakyat Indonesia. Kriteria dan konsep tersebut dapat ditafsirkan dan dirumuskan dalam konteks negara penganut demokrasi.
Dalam karya Serat Wulang Reh dijelaskan bahwa seorang pemimpin apabila tidak memahami tanda-tanda kehidupan kepemimpinannya cenderung tidak punya visi dam misi yang jelas. Pemimpin yang demikian cenderung cinta dan mengabdikan hidupnya hanya pada kekuasaan, popularitas, harta, dan jabatan. Bahkan buta mata hatinya akan kesejahteraan, kedamaian, kemakmuran dan keadilan bagi rakyatnya.
Gadjah Mada juga mewariskan lima cara yang harus dimiliki seorang pemimpin besar dalam menjalankan roda kepemimpinan yaitu selalu memberi motivasi pada bawahan, selalu dekat dengan rakyat dan selalu terlibat dalam pelaksanaan pengambilan keputusan. Selalu menjadi teladan bagi rakyatnya, selalu menggunakan cara yang cerdas, kreatif, dan inovatif dalam menjalankan kepemimpinan. Selalu memiliki pengabdian dan pengorbanan yang besar demi rakyat dan bangsa Indonesia.
Hasta Brata
Ajaran Hasta Brata terdiri dari delapan perwatakan alam, seorang pemimpin harus memiliki. Pertama, berwatak bumi, seorang pemimpin harus suka berderma. Kedua, berwatak air, seorang pemimpin harus punya sikap rendah hati, tenang, dan lemah lembut serta tidak angkuh.
Ketiga, berwatak angin, seorang pemimpin harus mengerti persoalan masyarakat. Keempat, berwatak lautan, pemimpin harus luas hati, siap menerima kritikan, keluhan dan siap menerima beban yang berat tanpa keluh kesah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Opini-Ditulis-oleh-Syahrul-Kirom-MPhil-Alumni-Pascasarjana-Ilmu-Filsafat-UGM.jpg)