Produksi Sampah di Kendal Mencapai 400 Ton/Hari
Persoalan sampah saat ini menjadi perhatian khusus Pemerintah Kabupaten Kendal.
Penulis: Saiful Ma sum | Editor: Daniel Ari Purnomo
"Jadi, nantinya hanya sampah yang tersisa yang dibuang di TPA. Yaitu sampah residu, daya tampung TPA masih lama," harapnya.
Guna menindaklanjuti hal ini, Aris bakal meminta bupati Kendal agar memberikan nota dinas kepada kepala desa untuk melakukan proses pemilahan sampah sejak dini.
Semua sampah yang memiliki manfaat akan dipilah dan dijadikan pundi-pundi rupiah.
Direktur BUMDes Sejahtera Desa Tanjungmojo, Kecamatan Kangkung, Bayu Winoto mengatakan, sampah yang dihasilkan warganya dikelola melalui BUMDes.
Warga mengumpulkan sampah di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) selanjutnya dipilah.
Hasilnya, sampah anorganik dijual kepada pengepul, sedangkan sampah organik diolah menjadi kompos.
"Sampah di desa kami rata-rata mencapai 6 ton per pekan. Dengan adanya metode ini, sampah-sampah tidak lagi dibuang ke sungai, sehingga tidak mencemari air sungai," ujarnya.
Ketua Bank Sampah Induk (BSI) Kendal, Nunuk Sarah Zaenubia menyampaikan, saat ini pihaknya menggerakkan sejumlah aktivis lingkungan untuk menangani sampah rumah tangga.
Dengan cara pengelolaan sampah terpadu dan mandiri di desa atau kelurahan.
Kata dia, sudah 8 tahun berjalan BSI menetapkan konsep pemilahan sampah dengan memisah sampah organik, anorganik dan mengolah sampah rumah tangga, sehingga yang dibuang ke TPA hanya sampah jenis residu.
Sampah organik bisa juga disulap menjadi pakan magot, selanjutnya magot digunakan untuk pakan lele, dan berbagai macam hewan unggas.
"Untuk sampah anorganik bisa dijual hasilnya ditabung untuk ditukar menjadi emas mini. Tiap Rp 50 ribu bisa ditukar dengan 0,05 gram emas mini," ujarnya. (Sam)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/kebakaran-tpa-darupono-lama-kendal.jpg)