Opini

Opini Mukhamad Zulfa: Ismail Anak Kurban

MAYORITAS ulama sepakat bahwa berkurban merupakan kisah yang terjadi antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail putranya. Cerita tentang kasih sayang bapak d

Editor: m nur huda
tribunjateng/bram
Opini ditulis oleh Mukhamad Zulfa 

Opini Ditulis Oleh Mukhamad Zulfa (Sekretaris Rabithah Ma’ahid Islamiyyah (RMI) NU Kota Semarang)

TRIBUNJATENG.COM - MAYORITAS ulama sepakat bahwa berkurban merupakan kisah yang terjadi antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail putranya. Cerita tentang kasih sayang bapak dan anak yang mengikuti perintah Tuhan. Diceritakan bahwa pada waktu peristiwa penyembelihan Ismail berumur tiga belas tahun. Anak remaja yang tumbuh dewasa.

Sifat yang melekat pada Ismail yaitu penyabar dan menepati janji. Hal ini terbukti dengan kesiapan untuk disembelih serta kesabaran dalam menghadapi cobaan sebagai anak pertama. Tentu ini tak lepas dari didikan Ibrahim sebagai seorang kepala rumah tangga. Di mana Ibrahim masyhur sebagai bapak monoteisme.

Wahyu penyembelihan turun melalui mimpi Ibrahim. Kemudian, perintah itu didialogkan dengan anak tercinta. Ismail mengiyakan perintah yang secara akal sehat itu muskil untuk dilaksanakan. Namun, karena memiliki ketaatan kepada Tuhan yang tinggi hal tersebut tidaklah mustahil. Ketika pelaksanaan penyembelihan, Allah mengganti Ismail dengan kambing gemuk dan selamatlah Ismail. Itulah awal mula disyariatkan kurban.

Tentu ada peristiwa menarik, mengapa Ismail sebagai manusia kemudian diganti dengan kambing. Ketika itu, manusia dijadikan persembahan kepada Tuhan yang dipuja-puja. Misal, di Kan’an, Irak, bayi ditumbalkan kepada Dewa Baal. Di Mesir, gadis cantik dipersembahkan kepada Dewa Sungai Nil. Di Eropa Timur, bangsa Viking mengurbankan pemuka agama kepada Dewa Perang, Odion.

Tuhan ingin mengajarkan betapa mahal harga jiwa manusia. Bukan dijadikan barang persembahan. Bukan berarti Tuhan melarang untuk tidak berkurban tetapi, Maha Kasih Tuhan menyayangi manusia agar tidak dikorbankan.

Bakti Ismail sebagai anak yang dinanti-nanti kelahirannya oleh Ibrahim menjadi teladan baik. Keinginan orang tua memiliki anak yang hormat tentu dambaan setiap pasangan suami istri. Namun, impian itu perlu adanya usaha dan doa agar menjadi anak yang saleh. Doa Ibrahim dikabulkan Tuhan dengan diberikan anak yang penyantun.

Kembali kepada soal kurban, yaitu dengan cara menyembelih unta, sapi, kerbau, kambing atau domba bagi orang yang mampu. Ini dilaksanakan mulai tanggal 10 Dzulhijjah (Hari Raya Idul Adha) hingga berakhir hari Tasyrik (11-13 Dzulhijjah). Kemudian dagingnya dibagikan kepada fakir miskin atau orang-orang yang membutuhkan. Boleh bagi orang yang berkurban memakan daging hasil kurbannya dengan tak melebihi sepertiga bagian.

Ketulusan

Hikmah dari kurban untuk mendapat ridha dari Allah SWT. Bukan daging sembelihan yang dipersembahkan kepada Tuhan. Melainkan, ketulusan dan kerelaan hati untuk berbagi kepada fakir miskin.

Selain itu, tujuan berkurban untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Ditambah menumbuhkan kesadaran atas kebesaran Allah serta menyebut nama Allah saja, bukan yang lain. Tentu orang yang mau berkurban akan mendapatkan kabar gembira dari Allah berupa surga.

Contoh kisah Ismail menjadi pelajaran berharga bahwa ketulusan dan kerelaan hati akan membuahkan hasil yang istimewa. Anak kesayangan tak jadi mati bahkan diganti dengan kambing gemuk dari surga. Pasti dengan landasan keimanan dan ketaatan yang kuat kepada Tuhan.

Menggembleng Anak

Ada uswah yang dapat diambil bahwa mendidik anak merupakan kewajiban bagi orang tua. Ibrahim berhasil menggembleng anaknya hingga menjadi seorang nabi dan rasul. Menjadi anak yang taat kepada orang tua dan tuhannya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved