Alasan Pedagang Daging Sapi Pasar Bandarjo Ungaran Kompak Mengeluh
Pedagang daging sapi Pasar Bandarjo Ungaran mengeluhkan sejumlah masalah yang menimpanya bersama sesama penjual daging, akhir-akhir ini.
Penulis: Reza Gustav Pradana | Editor: Daniel Ari Purnomo
TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Seorang pedagang daging sapi Pasar Bandarjo Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Iwan Sugiarto, mengeluhkan sejumlah masalah yang menimpanya bersama sesama penjual daging, akhir-akhir ini.
Tak bisa dihindari, Iwan terpaksa menerima keadaan di mana jumlah pembeli yang terus berkurang karena wabah Covid-19 dan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
Bahkan, sepekan semenjak peringatan Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada 10 Juli 2022 lalu, kios daging di tempatnya tak kunjung mengalami peningkatan jumlah pembeli.
“Sedih sekarang kami ini. Sudah Virus Corona, PMK, setelah kurban juga sampai sekarang masih tak laku.
Buktinya sampai sore saya masih buka, padahal biasanya dari buka pagi sampai siang sudah habis,” ujar Iwan kepada Tribunjateng.com, Senin (18/7/2022).
Diakuinya, sejak sebelum pandemi Covid-19, ia bisa menjual 100 kilogram atau 1 kwintal daging sapi dalam sehari.
Omzet yang ia dapat dari penjualan per kwintal pun rata-rata bisa mencapai sekitar Rp 10 juta dan keuntungan sekitar Rp 1,5 juta per harinya.
“Setelah Corona, turun 50 persen penjualan saya.
Paling-paling sehari jualnya 50 kilogram saja.
Apalagi sekarang PMK, ditambah kurban, jadi semakin tidak ada yang mau beli daging saya, padahal saya punya daging grade A atau yang kualitas terbaik dari RPH,” ujarnya.
Kesedihannya pun bertambah ketika mengetahui sepekan setelah Hari Raya Idul Adha, jumlah pembelinya masih tetap sedikit.
Padahal, ia sebelumnya telah menghentikan pasokan daging atau tak berjualan selama beberapa hari setelah Idul Adha, kemudian kembali menyetok dengan harapan bisa kembali laku.
Warga Ungaran tersebut mengatakan bahwa semenjak setelah Idul Adha, penjualan daging di kiosnya tak mencapai Rp 10 kilogram.
“Ya gimana ya, namanya orang sedang banyak daging pastinya tidak ada yang beli, makanya saya tidak jualan.
Nah setelah jualan sampai sekarang kok malah tidak ada yang beli.
Inginnya saya, tidak lama-lama lagi seperti ini, bisa kembali normal.
Harapan saya saat ini mudah-mudahan ada pihak yang sedang menggelar acara yang mendatangkan orang banyak sehingga untuk konsumsi daging sapinya bisa beli di tempat saya,” harapnya. (*)