Tindakan Keras Pelacakan Kontak Pasien Covid di China Picu Protes Warga

84 rumah di sebuah kompleks apartemen di distrik Liwan Guangzhou dibuka paksa, dalam upaya untuk menemukan kontak dekat yang bersembunyi di dalam.

Editor: Vito
STR/AFP
ilustrasi - Polisi berjaga di checkpoint untuk melihat hasil tes Covid-19 yang harus ditunjukkan warga saat masuk dan keluar kota Lanzhou, provinsi Gansu, China, pada 26 Oktober 2021. 

TRIBUNJATENG.COM, BEIJING - Pihak berwenang di China meminta maaf setelah membobol rumah orang-orang yang kemudian dibawa ke hotel karantina. Insiden terbaru dari tindakan keras pencegahan covid-19 China itu telah memicu protes publik yang jarang terlihat.

Media pemerintah mengatakan, 84 rumah di sebuah kompleks apartemen di distrik Liwan Guangzhou dibuka paksa, dalam upaya untuk menemukan kontak dekat yang bersembunyi di dalam, dan untuk mendisinfeksi tempat tersebut.

“Pintu-pintu itu kemudian disegel dan kunci baru dipasang,” lapor surat kabar Global Times, sebagaimana dilansir dari Guardian pada Rabu (20/7).

Pemerintah distrik Liwan meminta maaf pada Senin (18/7), atas perilaku yang semena-mena dan brutal. Investigasi telah diluncurkan, dan orang-orang yang relevan akan dihukum berat, kata surat kabar itu.

Pemerintah China telah mempertahankan kebijakan garis keras 'nol-covid' meskipun merasakan peningkatan dampak ekonomi dan gangguan terhadap kehidupan warga.

Sepanjang pandemi, warga China terus menjadi sasaran pengujian dan karantina rutin, bahkan ketika seluruh dunia telah terbuka untuk mencoba hidup dengan virus.

Sejumlah kasus polisi dan petugas kesehatan membobol rumah-rumah di seluruh China atas nama tindakan anti-covid-19 didokumentasikan oleh warga di media sosial.

Beberapa menunjukkan pintu yang telah dirobohkan dan penduduk diancam dengan hukuman, bahkan ketika mereka dinyatakan negatif covid-19.

BBC melaporkan, banyak yang menyerukan agar mereka yang terlibat ditangkap karena masuk secara ilegal, mengingat pelanggaran itu termasuk dalam hukum pidana China.

Pengguna di jejaring sosial Sina Weibo yang populer, menyebut insiden itu tanpa hukum, dan telah mengunggah bahwa perilaku seperti itu menginjak-injak hak-hak sipil orang.

"Apakah ini negara yang diatur oleh hukum?" satu orang bertanya. "Permintaan maaf saja tidak cukup," tambah yang lain.

Pihak berwenang telah mengendalikan kunci rumah atau gedung, untuk mengunci penghuni di mana kasus telah terdeteksi. Penghalang baja didirikan untuk mencegah mereka meninggalkan kompleks mereka, dan jeruji besi dilas di pintu.

Para pemimpin Partai Komunis China melakukan kontrol ketat atas pemerintah, polisi, dan kendali kontrol sosial. Sebagian besar warga negara terbiasa dengan kurangnya privasi dan pembatasan kebebasan berbicara dan hak untuk berkumpul.

Namun, langkah-langkah anti-covid-19 yang ketat dan terus menerus telah menguji toleransi itu. Perlawanan warga terlihat terutama di Shanghai, di mana penguncian yang kejam dan sering kacau memicu protes online dan langsung, ketika warga kesulitan mengakses makanan, perawatan kesehatan, dan kebutuhan dasar. 

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved