Berita Semarang

Sering Dikeluhkan, Ini Alasan Truk Berhenti di Bahu Jalan Tol, Sopir: Kalau Tidak Justru Bahaya

Sejumlah pengemudi truk bersuara menanggapi keluhan masyarakat mengenai banyaknya truk berhenti di bahu Jalan Tol Trans Jawa

Penulis: budi susanto | Editor: muslimah
TribunJateng.com/Budi Susanto
Seorang pengendara sepeda motor yang hendak mendahului truk terpaksa berhenti, ia berhenti tepat di tengah jalan lantaran sempitnya jalan, saat arus lalulintas Jalan Pantura Kendal-Semarang dipadati truk besar, Senin (1/8/2022). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sejumlah pengemudi truk bersuara menanggapi keluhan masyarakat mengenai banyaknya truk berhenti di bahu Jalan Tol Trans Jawa.

Para pengemudi truk berujar, pengguna jalan tol tak paham mengenai alasan truk berhenti sementara di bahu jalan tol.

Pasalnya jika truk bermuatan tak berhenti sementara akan lebih membahayakan pengguna jalan lain.

Hal itu lantaran, truk harus mendingkan rem dan ban, khususnya truk pengangkut barang ataupun truk kontainer.

Baca juga: 2 Kesaktian Bharada E Seperti Diuraikan Mantan Kabareskrim Susno Duadji, Ditembak 7 Peluru Tak Kena

Baca juga: Ibu Rumah Tangga Curi Uang Rp25 Juta di Agen Bank, Ditangkap Polisi Setelah Setahun Penyelidikan

Hasanudin satu di antara pengemudi truk asal Gunungpati Semarang menerangkan, dalam kondisi tertentu rem dan ban truk harus didinginkan.

"Apalagi saat mau melewati turunan, seperti di tol Banyumanik arah ke barat. Kalau nekat saat rem panas atau ban panas bisa terjadi kecelakaan," ucapnya, Senin (1/8/2022).

Hasanudin yang sudah belasan tahun menjadi pengemudi truk itu, mengakui hal tersebut melanggar aturan.

Namun para pengemudi truk terpaksa melakukannya karena jika dipaksa akan membahayakan.

"Kami juga sering ditegur petugas, tapi kami sampaikan alasan kami, dan petugas memberikan waktu sebentar untuk mendinginkan rem maupun ban tak sampai 30 menit," jelasnya.

Dipaparkannya, lampu Hazard juga dihidupkan oleh pengemudi truk saat berhenti di bahu jalan tol.

"Kalau dianggap melanggar kami akui iya, namun kalau tidak berhenti juga membahayakan. Ya bagi masyarakat yang tidak paham pasti menyalahkan kami, padahal kami berhenti untuk kebaikan pengguna jalan juga," kata Hasanudin.

Ia berujar jauhnya jarak rest area di jalan tol juga menjadi penyebab banyaknya truk berhenti di bahu jalan tol.

"Kalaupun ada tempat khusus kami juga tidak akan berhenti di bahu jalan tol, karena terpaksa saja. Bisa dibayangkan truk yang memuat kontainer dengan berat 30 ton juga rem dan ban dalam kondisi panas, kalau kecelakaan nasip kami bagiamana," jelasnya.

Hasanudin menerangkan, paling banyak truk berhenti ketika hendak melintasi turunan, meski tak jarang ada yang terpaksa berhenti saat melintasi jalan datar di jalan tol.

"Selama ini beberapa petugas sudah baik jika kami menyampaikan alasan untuk mendinginkan rem dan ban, namun juga ada yang benar-benar galak dan melarang pengemudi truk berhenti meski alasannya ban dan rem panas," Imbuhnya.

Hal serupa diungkapkan Agung pengemudi truk dari Kabupaten Demak, kepada Tribunjateng.com melalui sambungan telepon.

Agung yang kini mengendarai truk pengangkut pasir menjelaskan, pengemudi truk muatan berat dituntut kehati-hatian.

"Masyarakat yang selalu komplain ada truk berhenti di bahu jalan tol tidak pernah merasakan menjadi pengemudi truk. Bisanya protes dan lapor ke petugas, padahal kalau terjadi kecelakaan Kami yang disalahkan, entah tuduhan supir lalai atau apa. Mbok ya saling menghargai, kami juga bekerja mengirim barang untuk masyarakat," tambahnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved