Berita Jateng

Cakupan Imunisasi Dasar di Jawa Tengah Saat Pandemi Capai 80 Persen

Pemberian imunisasi dasar pada bayi saat pandemi sempat mengalami kendala.

Penulis: faisal affan | Editor: rival al manaf
TRIBUN JATENG/FAIZAL M AFFAN
Ketua Kwarda Pramuka Jateng Siti Atikoh Supriyanti saat memberikan sambutan dalam acara Sosialisasi Gerakan Pramuka Dalam Mendukung BIAN dan BIAS di Hotel Grandhika Semarang, Rabu (10/8/2022) 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pemberian imunisasi dasar pada bayi saat pandemi sempat mengalami kendala. Pasalnya saat awal pandemi, masyarakat Indonesia diminta untuk tetap berada di rumah.

Adapun pelayanan posyandu untuk sementara waktu ditiadakan, supaya untuk mengurangi kerumunan dan penularan virus covid-19. Alhasil cakupan imunisasi dasar di Jawa Tengah tidak sampai 50 persen.

Hal itu diungkapkan oleh Siti Atikoh Supriyanti saat menjadi narasumber di acara Sosialisasi Gerakan Pramuka Dalam Mendukung BIAN dan BIAS di Hotel Grandhika Semarang, Rabu (10/8/2022).

Atikoh yang hadir sebagai Ketua Kwarda Pramuka Jateng ini, menjelaskan dalam sehari biasanya bisa melayani imunisasi sebanyak 50 bayi, tapi saat pandemi hanya 10 persen saja.

"Saat itu kami menunggu SOP dari Kemenkes supaya ada pelayanan Posyandu lagi. Karena ini penting untuk kesehatan bayi-bayi di Jawa Tengah. Akhirnya sempat diberlakukan sistem janji. Supaya tak ada penumpukan antrean di Posyandu," terang istri Gubernur Jawa Tengah ini.

Dari data yang dimilikinya, saat itu ada 90 persen Posyandu yang tidak aktif. Bahkan 65 persen di antaranya terganggu karena beberapa faktor. Namun, pada tahun 2021 cakupannya bisa mencapai 80 persen.

"Luar biasa ini tenaga kesehatan yang semangat memberikan pelayanan untuk bayi-bayi yang diimunisasi. Kita memang sedikit nyolong start sebelum Kemenkes memperbolehkan ada imunisasi di Posyandu lagi," ucapnya.

Selain gerakan yang nyata di masyarakat, pola edukasi melalui beberapa organisasi masyarakat juga penting. Tak terkecuali gerakan Pramuka yang ada di semua sektor lapisan masyarakat.

"Edukasi harus dilakukan terus. Targetnya meningkatkan cakupan di tahun 2022 sekaligus vaksin booster. Imunisasi ini penting karena bisa menghindari kecacatan serta menjaga imunitas tubuh terhadap virus menular," tambah Atikoh.

Di lain pihak Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Yunita Dyah Suminar, mengatakan sempat melakukan injeksi dua kali dalam satu waktu imunisasi. Hal itu untuk menunjang imunisasi yang sempat tersendat karena pandemi.

"Jadi bayi sekali datang langsung disuntik dua kali. Kami sempat khawatir tapi ternyata memang tidak masalah. Minat warga Jawa Tengah untuk Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) luar biasa mencapai 22,9 persen," bebernya.

Pihaknya menargetkan tahun 2022 cakupan imunisasi di Jawa Tengah bisa mencapai 90 persen. Namun, masih ada beberapa tantangan yang harus dihadapi untuk mencapainya.

"Jelas pandemi belum selesai. Tapi sosialisasi terus kami gencarkan supaya orangtua sadar jika imunisasi dasar itu penting. Saya harap target 90 persen itu bisa tercapai," tutup Yunita.

Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian Kesehatan Undip, Martini, mengatakan sudah menggerakkan mahasiswa KKN untuk melakukan sosialisasi imunisasi. Sebanyak 280 mahasiswa didapuk untuk menjalankan program imunisasi di masyarakat.

"Adapun 4.000 mahasiswa KKN reguler, yang kami harapkan juga bisa melaksanakan program imunisasi," katanya.

Kegiatan sosialisasi imunisasi yang mengajak perwakilan Pramuka di Jawa Tengah sebenarnya sudah berlangsung sejak 2017. Pengabdian masyarakat dengan melibatkan pihak Pramuka dirasa lebih efisien.

"Karena di Pramuka ternyata juga ada UU pengabdian masyarakat. Maka misi kami sama. Bagaimana caranya membawa anak-anak Indonesia tangguh dan sehat," pungkasnya.(afn)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved