Berita Karanganyar

Peraih Medali Perunggu ASEAN Para Games Asal Karanganyar Ini Awal Karir Pakai Raket Pemberian Orang

Yunia Widya Irianti, warga Karanganyar, mulai geluti bulutangkis sejak di SMK.

Penulis: Agus Iswadi | Editor: sujarwo
Tribun Jateng/Agus Iswadi
Yunia Widya Irianti menunjukan medali perunggu ASEAN Para Games 2022 didampingi orang tuanya, Kamis (11/8/2022). 

TRIBUNJATENG.COM, KARANGANYAR - Yunia Widya Irianti, warga Dusun Lor Pasar RT 1 RW 5 Desa/Kecamatan Matesih Kabupaten Karanganyar mulai menggeluti bulutangkis sejak duduk di bangku kelas 2 SMK.
 
Perjalanannya hingga dapat berlaga dalam ajang ASEAN Para Games 2022 di Solo beberapa waktu lalu menjadi pengalaman yang tak dibayangkan sebelumnya oleh perempuan kelahiran 17 Juni 2001 itu. Dalam ajang tersebut, Nia sapaan akrabnya berhasil meraih dua perunggu dalam dua nomor yakni individu dan ganda campuran. 

Menurut Nia, capaian itu tidak terlepas dari dukungan semua pihak baik itu keluarga, teman, pelatih dan penonton yang hadir mendukung di GOR UNS Solo. Dia merasa bangga dapat menyumbangkan medali dan mengharumkan nama Indonesia dalam kejuaraan tersebut. 

"Baru pertama main di ASEAN Para Games, rasa gugup ada. Pas main ganda campuran (bersama Dimas Tri Aji dari Jabar) sempat bengong. Nggak nyangka bisa main sampai level ini," katanya kepada Tribunjateng.com saat ditemui di kediamannya, Kamis (11/8/2022). 

Dia juga tidak menyangka dan terharu mendapatkan sambutan dari masyarakat sekitar yang begitu luar biasa saat kepulangannya ke rumah beberapa waktu lalu usai berlaga dalam ajang olahraga tersebut. 

Nia menceritakan, awal karirnya menjadi atlet bulutangkis dimulai saat duduk dibangku kelas 2 SMK Muhammadiyah Karanganyar. Saat itu dia ditawari oleh pihak NPC Karanganyar untuk menjadi atlet bulutangkis. Ajang kejuaraan pertama yang diikuti Nia ialah Peparprov di Solo pada 2018 lalu. Dalam kejuaraan itu dia berhasil mendapatkan medali perunggu dalam nomor individu. 

"Saya dulu pegang raket nggak bisa (belum mahir), mulai dari nol. Pertama masuk (latihan) rasanya gugup, pengalaman pertama, dulu nggak pakai sepatu badminton, pakai sepatu sekolah," ucapnya. 

Sempat vakum karena fokus sekolah, dia kemudian memulai kembali menggeluti dunia bulutangkis dalam ajang kejuaraan Peparnas di Papua pada 2021 lalu. Dalam kejuaraan itu dia berhasil mendapatkan 1 emas dan dua perunggu dalam nomor individu, elit dan ganda campuran. 

Baginya capaian yang selama ini didapatkannya tidak terlepas dari ketekunan, tekad dan dukungan dari semua pihak. Cibiran dari beberapa orang justru dijadikannya sebagai motivasi untuk memberikan yang terbaik. 

"Selagi ada kesempatan ambilah, jangan disia-siakan. Kesempatan tidak datang dua kali. Jangan minder dengan keadaan," ungkapnya. 

Nia merupakan anak dari pasangan, Guntur Prasetyo Irianto dan Yayuk Sri Rahayu. Orang tuanya merasa bangga dengan capaian anaknya hingga saat ini. Irianto mengungkapkan, raket yang dulu digunakan Nia untuk berlatih dan mengikuti kejuaraan merupakan pemberian dari temannya. Raket tersebut hingga saat ini masih disimpan oleh Nia.

"Raket saya mintakan teman, kan ada dua. Siji dinggo anakku yo (satu raket untuk anak saya ya)," kenangnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved