Minggu, 10 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Liputan Khusus

Tiarap Sementara, Eks Pengepul: Togel Bakal Beroperasi Lagi Bila Sudah Kondusif

Mantan pengepul atau penambang judi togel di Kota Semarang menilai tiarapnya para bandar togel akhir-akhir ini hanya bersifat sementara.

Tayang:
Editor: m nur huda
Tribun Jateng/ Iwan Arifianto
Warung togel yang memilih tiarap dengan menutup warungnya - Mantan pengepul atau penambang judi togel di Kota Semarang menilai tiarapnya para bandar togel akhir-akhir ini hanya bersifat sementara. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Mantan pengepul atau penambang judi togel di Kota Semarang menilai tiarapnya para bandar togel akhir-akhir ini hanya bersifat sementara.

Menurut pria yang enggan disebutkan namanya itu mengatakan, pelapak togel bakal kembali jualan saat situasi kondusif.

Ia mengatakan, hal itu biasa dalam dunia togel. Penjual akan cari aman. Mereka akan tiarap saat situasi kurang menguntungkan seperti sekarang ini.

Namun demikian, umumnya penambang hanya kenal libur saat H-7 Ramadan dan H-7 Lebaran. Selain dua momen itu, penjual tetap buka.

Baca juga: GP Ansor Jateng Dukung Polri Berantas Judi, Tapi Jangan Lupakan Bandarnya

"Karena saat itu banyak operasi dari polisi sekaligus menghormati Ramadan," terangnya, Rabu (24/8).

Selain itu, pihaknya juga akan meliburkan diri semisal ada kejadian menonjol di kepolisian sehingga digencarkannya operasi soal judi. Sedangkan soal razia, biasanya dilakukan polisi di bulan-bulan tertentu dan menyasar pelapak yang nekat buka.

Namun, para agen biasanya akan menginformasikan ke tingkat pengepul agar tidak beroperasi terlebihdahulu. Mereka juga menyuruh atribut di warung segera dicopot hingga nanti buka lagi sesuai instruksi agen

"Dulu misal ditangkap polisi, agen tanggung jawab. Nanti yang urus di polisi, agen dan bandar. Tapi dulu Kami main aman tak akan buka saat masih gencar operasi sehingga kami tak pernah tertangkap," lanjutnya.

Sedangkan melihat situasi seperti sekarang ini, menurutnya para agen dan bandar akan tutup. Namun bila suasana kondusif, pria 25 tahun ini yakin, togel akan kembali beroperasi.

"Ya lihat saja nanti pasti buka lagi karena pangsa pasar judi togel menggiurkan," sambungnya.

Di sisi lain, ia mengungkapan, saat masih jadi penambang empat tahun lalu, ia mendapat komisi secara harian. Tugasnya untuk melayani pembeli togel hingga menyetorkan uang pembelian nomor pada agen. Kala ia masih berkecimpung di dunia togel, paling laris adalah Kuda Lari dan Hongkong.

Menurutnya, tiap sore ia didrop kertas togel oleh agen dan ludes dalam hitungan jam. Ia mengatakan, omzet lapaknya sekitar Rp 2 juta per hari di mana ia mendapat komisi sebesar 20 persen.

"Tapi belakangan banyak agen yang ganti penjual perempuan, itu sistemnya gaji bulanan beda dengan dahulu yang dibayar harian," jelasnya.

Hampir dua tahun malang melintang jadi penjual judi togel, ia mengaku sudah kapok sebab tidak ada keuntungan yang didapat karena uangnya cepat habis. Ia pun merasakan kejenuhan berada di dunia pertogelan.

"Tidak ada orang kaya dari judi kecuali jadi bandar. Saya merasa tak nyaman di dunia itu," paparnya.
Diakuinya mendapat uang dari dunia judi gampang karena tinggal duduk tidak perlu modal. Tidak enaknya, adakala pembeli kurang ajar dan suka berutang.

"Pernah keliru penulisan tanggung jawab ganti rugi sampai Rp 1 juta karena salah nulis. Dulu masih model SMS sudah deal beli tapi tidak saya tulis. Ternyata nomor tembus. Pembeli tak mau tahu jadi nganti," terangnya.

Ia menjelaskan, para pejudi togel langgannya dulu suka pasang karena kebutuhan uang. Kedua karena hobi hingga maniak sehingga ketika tidak pasang jadi bingung sendiri. Saking maniaknya, ketika ada kecelakaan lalu lintas dicari nomor pelatnya.

Sewaktu mimpi nomor dianalisis, ada orang gila ditanya nomor togel bahkan sampai mencari ke tempat angker demi nomor.

"Itu hanya beberapa untuk mencari nomor jagoan biar tembus. Pengalaman saya ada yang tembus dari cara-cara itu. Biasanya malah pemain baru. Setelah itu kecanduan tapi ga tembus-tembus lagi," tuturnya.

Terpisah, sebut saja namanya, Paijo. Pria umur 45 tahun tersebut adalah pecinta nomor togel. Favoritnya adalah togel Hongkong. Pasang togel baginya adalah hobi, bukan karena ingin kaya. Ia biasa menghabiskan Rp 10 ribu untuk pasang togel.

"Ya pasang togel buat obat stres saja. Seminggu ini tak bisa pasang, bikin stres," kata tukang parkir tersebut.

Hal senada juga dikatakan penyuka togel lainnya yang bernisial WH (55). Hampir tiap hari dalam empat tahun terakhir, ia mengaku selalu pasang nomor.

Biasanya, ia rata-rata menghabiskan Rp 30 ribu untuk beli togel Hongkong. Terakhir ia beli togel sekitar seminggu lalu di lapak di dekar rumahnya di Semarang Barat.

"Tiap hari pasang, sekarang tidak pasang lemas. Apalagi ini perjudian togel darat pada ditutup," bebernya kepada Tribunjateng.com.

WH mengaku, ada hal yang hilang dari hidupnya. Menurutnya, sebelum ini ia punya aktivitas rutin. Tiap pukulu 21.00, ia akan beli togel. Kemudian, akan menunggu nomor keluar pada pukul 23.00. Sekarang ini, ia mengaku sudah tidak ada yang ditunggunya.

"Hidup sekarang jadi itu-itu saja. Tidak ada yang ditunggu," terangnya. (tim/tribun jateng cetak)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved