Wawancara Khusus

Wakil Ketua LPSK Edwin Partogi Sebut Pelecehan Seksual Putri Candrawathi di Luar Nalar

Permohonan ibu PC secara resmi baru kami terima tanggal 14 Juli 2022 yang diajukan lewat kuasa hukumnya.

Editor: rustam aji
Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha
WAWANCARA EKSKLUSIF - Direktur Pemberitaan Tribun Network, Febby Mahendra Putra, berbincang dengan Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Edwin Partogi Pasaribu, saat wawancara eksklusif di Kantor Tribun Network, Jakarta Pusat, Rabu (24/8/2022). 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Edwin Partogi Pasaribu mengaku menerima banyak laporan pelecehan seksual. Perihal laporan pelecehan seksual istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, menurutnya di luar nalarnya.

"Pada umumnya laporan kekerasan seksual ada relasi kuasa artinya posisi pelaku lebih dominan ketimbang korban. Sini brigadir, sono istri jenderal, ini saja sudah gugur," ucap Edwin di kantor Tribun Network, Jakarta, Rabu (24/8).

Berikut petikan wawancara eksklusif Direktur Pemberitaan Tribun Network Febby Mahendra Putra dengan Wakil Ketua LPSK Edwin Partogi:

LPSK bisa berkaitan dengan kasus pembunuhan Brigadir Josua ini awalnya bagaimana?

Diawali adanya permohonan perlindungan yang diajukan oleh Bharada E dan Ibu Putri Candrawathi. Kita kan sama-sama mendengar peristiwa diumumkan oleh Polri pada 11 Juli 2022.

Kemudian kami sudah menangkap pasti ini sebuah peristiwa besar karena ada orang mati dibunuh di rumah jenderal. Jadi kami hari Selasa 12 Juli 2022 sudah berkoordinasi dengan Polres Jakarta Selatan untuk mengetahui peristiwanya seperti apa termasuk apakah ada pihak saksi atau korban yang membutuhkan perlindungan.

Jadi LPSK yang proaktif begitu ada rilis dari Kepolisian RI tanggal 11 Juli, lalu apa hasil koordinasinya dengan penyidik?

Ya, dijelaskan konstruksi awal kematian Brigadir J. Pada hari Rabu 13 Juli 2022 kami menemui Pak Irjen Sambo bahwa beliau juga menyampaikan dari peristiwa ini istrinya ibu PC membutuhkan perlindungan.

Pak Sambo mengatakan pada saat itu istrinya adalah korban pencabulan dan dia terganggu secara psikis dengan pemberitaan media massa. Dia berharap bisa melindungi istrinya dari pemberitaan itu.

Lalu apakah dijelaskan media massa dalam bentuk bagaimana sehingga dikatakan menyerang psikis Ibu PC?

Memang tidak ada penjelasan mengenai itu dan itu padahal baru hari ketiga (setelah polisi rilis). Tapi bahwa menurutnya ibu PC terguncang secara psikis karena pemberitaan.

Di hari yang sama kami bertemu dengan Bharada E. Dia juga mengajukan permohonan secara langsung dan juga menceritakan apa yang terjadi versi pertama.

Permohonan ibu PC secara resmi baru kami terima tanggal 14 Juli 2022 yang diajukan lewat kuasa hukumnya. Tanggal 16 Juli 2022 kami diagendakan bertemu dengan ibu PC di rumah pribadi saguling.

Di pertemuan itu ibu PC bersama Komnas Perempuan, seperti yang kami sampaikan bahwa kami tidak mendapat informasi apapun dari ibu PC saat itu.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved