Berita Video

Video Paryanto Tambal Ban Panggilan di Semarang Siaga Menolong 24 Jam

Tukang tambal ban panggilan itu tak hanya sekedar menambal ban, lebih dari itu,ia juga menambal rasa takut konsumen yang kebingungan.

Penulis: iwan Arifianto | Editor: abduh imanulhaq

"Dulu cari keuntungan dari mengandalkan isi angin saja sehari bisa dapat Rp100 ribu, sekarang sulit sekali," terangnya.

Kedua, tambal ban pangkalan sekarang tidak aman terutama di pinggir jalan karena izin tidak ada sehingga barang yang ditinggal pinggir jalan rawan hilang.

Ia bahkan pernah kehilangan peralatan tambal ban hingga alami kerugian Rp4 juta.

Kejadiannya sekira lima tahun lalu.

"Saya hampir mau menyerah jadi tukang tambal ban karena hasil sama jam kerja tidak masuk.

Akhirnya berpikir bagaimana caranya tetap untung menjadi tukang tambal ban," jelasnya.

Ia sudah sejak tahun 1998 menjadi tukang tambal ban sehingga sulit meninggalkan pekerjaan tersebut.

Bahkan sempat memiliki empat cabang tambal ban. Namun gulung tikar semua.

Ia pun akhirnya memilih menjadi tukang tambal ban panggilan dengan alasan penghasilan lebih menjanjikan.

"Kalau boleh memilih tentu menjadi tukang tambal ban pangkalan tapi kondisinya sudah berubah mau tidak mau kita juga harus mengikuti zaman," ungkapnya.

Ia lantas berpikir untuk mempromosikan jasanya.

Berbagai cara sudah dilakukan, di antaranya memasang tulisan spanduk iklan di pohon di tempat strategis.

Namun cara itu kurang efektif karena papan iklan sering diambil Satpol PP.

Ia terus mencari tahu cara iklan efektif dengan mencarinya di YouTube.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved