Berita Ungaran

Ini Titik Rawan Bencana Longsor, Banjir Bandang dan Puting Beliung di Kabupaten Semarang

BPBD Kabupaten Semarang mulai bergerak mengantisipasi dan mewaspadai titik rawan.

Penulis: Reza Gustav Pradana | Editor: sujarwo
TribunJateng.com/Hermawan Endra
Ilustrasi. Upaya BPBD Kabupaten Semarang dan tim SAR Gabungan dalam melakukan penyisiran korban terseret arus deras di lingkungan Jatisari, Kelurahan Gedanganak, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang membuahkan hasil pada operasi pencarian hari kedua. 

TRIBUNJATENG.COM, KABUPATEN SEMARANG - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang mulai bergerak mengantisipasi dan mewaspadai titik rawan atau potensi bencana alam saat masuknya musim hujan di Jawa Tengah mulai September 2022 ini.

Seperti yang diketahui, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim hujan di Jawa Tengah (Jateng) pada 2022 ini datang lebih cepat.

Jika pada tahun-tahun sebelumnya musim hujan pada umumnya tiba pada Oktober, namun diketahui hujan sudah sering terjadi sejak dasarian atau sepuluh hari pertama September 2022.

Menurut penuturan Kasi Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang, Riyadi, terdapat sejumlah wilayah di Kabupaten Semarang yang berpotensi dilanda bencana alam.

Menurut Riyadi, jenis bencana yang terjadi pada umumnya yakni tanah longsor, angin puting beliung, dan tanggul sungai jebol.

“Untuk longsor, yang utamanya di Banyubiru, Sumowono, Bandungan dan Ungaran Timur.
Di sana bahaya longsornya cukup tinggi dibanding kecamatan-kecamatan lain di Kabupaten Semarang.

Yang paling parah berada di Desa Wirogomo, Banyubiru, itu memang berada di lereng Gunung Kelir dan tanahnya tinggi-tinggi,” ujarnya kepada Tribunjateng.com, Selasa (13/9/2022) hari ini.

Sebagai informasi, tanah longsor terjadi di Desa Wirogomo pada 7 Juni 2022 lalu. Longsor tersebut mengakibatkan akses dua desa yakni Wirogomo dan Sepakung.

Akibat kejadian itu, sebanyak 50 KK di Desa Wirogomo karena terisolir.

Riyadi menerangkan bahwa saat ini pihaknya sudah menerjunkan alat berat ekskavator di sana untuk evakuasi tanah jika terjadi longsor.

“Karena di sana paling sering longsor, maka ekskavator kami sering berada di sana berhari-hari,” sambungnya.

Selain tanah longsor, peristiwa lain yang perlu diwaspadai menurut Riyadi yakni angin puting beliung.

Meskipun angin puting beliung tidak dapat dideteksi kerawanannya pada satu titik tertentu, namun Riyadi mengimbau warga waspada terutama untuk yang atap bangunan rumahnya berbahan baja ringan, asbes dan galvalum.

“Kalau kena angin puting beliung cepat sekali lepasnya dan sangat berbahaya untuj keselamatan. Menurut saya hal ini (angin puting beliung) yang kurang diwaspadai, dalam kondisi seperti itu kebanyakan warga yang berada di luar justru merekam video dan tidak menyelamatkan diri. Padahal galvalum kalau terbang seperti pisau saja itu,” tegasnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved