Fokus

Fokus : Antara Boleh dan Pantas

PERUBAHAN posisi dari mantan menteri kemudian memenangi Pilkada menjadi Kepala Daerah itu sudah banyak. Sebut saja Nur Mahmudi Ismail

Penulis: iswidodo | Editor: Catur waskito Edy
tribunjateng/bram
Iswidodo wartawan Tribunjateng.com 

oleh Iswidodo

Wartawan Tribun Jateng

PERUBAHAN posisi dari mantan menteri kemudian memenangi Pilkada menjadi Kepala Daerah itu sudah banyak.
Sebut saja Nur Mahmudi Ismail Wali Kota Depok selama dua periode adalah mantan Menteri Kehutanan dan Perkebunan.

Gus Ipul atau Syaifullah Yusuf Wali Kota Pasuruan merupakan mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Indonesia. Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jawa Timur juga mantan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, yang juga mantan Menteri Sosial.

Mantan anggota DPR RI lalu ikut Pilkada menang, jadi Gubernur atau Bupati juga banyak. Ganjar Pranowo adalah mantan anggota DPR RI yang kemudian memenangi Pilkada Jateng menjadi Gubernur. Malah dua periode. Mantan pesaingnya, Calon Wagub Ida Fauziah malah sekarang diangkat menjadi Menteri Tenaga Kerja RI.

Mantan Bupati Kulonprogo dua periode Hasto Wardoyo adalah sekarang menjadi Kepala BKKBN Pusat. Mantan bupati Kudus Musthofa juga terpilih menjadi anggota DPR RI. Dico Ganinduto bupati Kendal juga mantan anggota DPR RI. Dan masih banyak lagi, perubahan atau pergeseran status, profesi maupun jabatan politis. Terbaru adalah Abdullah Azwar Anas mantan Bupati Banyuwangi dua periode yang kemarin dilantik Presiden Jokowi menjadi (Menpan RB)

Lalu sekarang saat situasi politik makin menghangat menjelang Pemilu 2024, ada wacana Presiden Jokowi (dua periode) masih bisa dicalonkan lagi menjadi Calon Wapres.

Ketua Badan Pemenangan Pemilu PDI Perjuangan Bambang Wuryanto mengatakan, Joko Widodo sangat mungkin menjadi wakil presiden (wapres) pada 2024. Pada tahun itu pula, jabatan Jokowi sebagai presiden akan berakhir.

Pria yang akrab disapa Bambang Pacul itu mengatakan, aturan memang membolehkan presiden yang sudah menjabat dua periode maju sebagai calon wakil presiden di pemilu.

Namun, ini bergantung pada keputusan Jokowi, apakah hendak menggunakan peluang tersebut atau tidak. Tapi intinya capres dan cawapres dari PDIP tergantung keputusan Megawati Soekarnoputri selaku ketua umum partai.

Baru-baru ini muncul isu hangat duat antara Prabowo Subianto dan Joko Widodo sebagai calon presiden dan wakil presiden pada Pilpres 2024. Entah apa tujuan politis di balik isu tersebut. Tidak mudah untuk ditebak.

Namun menurut analis politik Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, isu Prabowo-Jokowi sengaja diembuskan dalam rangka menguji reaksi publik sekaligus mencari alternatif model lain supaya Jokowi tetap memegang kendali kekuasaan.

"Wacana ini menjadi santer diperbincangkan di ruang publik atau masyarakat, lalu melihat sejauh mana respons masyarakat dengan narasi duet tersebut," katanya.

Menurut Pangi duet Prabowo-Jokowi bakal sanggup meraih banyak suara seandainya betul-betul maju di Pilpres 2024. Tapi jangan lupa, perilaku pemilih Indonesia itu juga akan jenuh, stagnan, mereka rindu figur-figur yang lebih segar, populis.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved