Berita Semarang

Kota Semarang Catat 24 Kasus Kematian Akibat DBD

Kasus DBD menjadi perhatian serius karena telah mengakibatkan kematian sedikitnya 24 kasus dari total sekitar 300 kasus per Agustus 2022.

PEMKOT PEKALONGAN
ILUSTRASI - Petugas Dinkes Kota Pekalongan melakukan fogging di daerah endemis dan fokus kasus DBD, Selasa (19/7/2022). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mengeklaim kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Lunpia mengalami penurunan pada September 2022. 

Kepala Dinkes Kota Semarang, Moh Abdul Hakam mencatat, hanya ada 10 kasus DBD hingga pertengahan bulan ini.

Meski mulai mengalalami penurunan, kasus DBD tetap menjadi perhatian serius karena telah mengakibatkan kematian sekitar 24 kasus dari total sekitar 300 kasus sepanjang Januari hingga Agustus 2022. 

"Kalau bulan ini ada 10 kasus, tapi kan ini belum full. Harapan kami tidak ada kenaikan. Total kasus sampai Agustus kemarin diangka 300 kasus," beber Hakam, Senin (19/9/2022). 

Baca juga: Kasus DBD Demak Sudah Mencapai Ratusan, 2 Orang Korban Meninggal Dunia

Menurutnya, upaya menekan angka DBD di Ibu Kota Jawa Tengah terus dilakukan. Satu diantaranya dengan gencar melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) seminggu sekali.

Dia berharap PSN bisa berjalan diatas 95 persen. 

Kemudian, sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) terus digerakkan. Dia menyebut, ada lima jenis STBM yaitu pengelolaan limbah, sampah, open defecation free (ODF) atau tidak buang air besar sembarangan, cuci tangan, dan sanitasi. Jika hal itu diterapkan, dia yakin kasus dipastikan akan turun. 

"Limbah, sampah, ODF, cuci tangan, sanitasi. Kalau lima pilar ini dikerjakan baik saya kira nyamuk akan turun," ujarnya. 

Upaya lainnya, lanjut Hakam, Kota Semarang akan menerapkan metode Wolbachia. Kota Semarang menjadi pilot project metode Wolbachia dari Kementerian Kesehatan. Metode ini akan dilakukan terutama di wilayah-wilayah yang memiliki angka kasus cukup tinggi. 

Dia memastikan, metode ini aman untuk lingkungan maupun manusia. Masyarakat tak perlu khawatir nantinya lingkungannya akan disebar nyamuk yang sudah berwolbachia. 

"Wolbachia adalah bakteri yang nantinya akan dimasukkan ke nyamuk Aedes Aegypti. Kalau ada nyamuk Aedes Aegypti yang berwolbachia, itu akan menjadi mandul atau tidak bisa menetas," terangnya. 

Dia menjelaskan, metode ini nantinya mengawinkan nyamuk Aedes Aegypti dikembangbiakkan di dalam ember yang telah dilubangi. Setelah nyamuk kawin dengan nyamuk yang sudah memiliki Wolbachia, peranakan nyamuk baru tidak lagi mengeluarkan virus DBD. 

"Ember akan diletakan setiap 75 meter di daerah yang kasusnya tinggi. Harapannya, selama enam bulan hingga satu tahun sudah berkembangbiak banyak dan bisa menekan kasus DBD," paparnya. 

Hakam membeberkan, Kementerian Kesehatan berencana akan ke Semarang pada akhir bulan ini. Dia berharap, metode ini bisa diterapkan pada awal Oktober mendatang. 

"Tanggal 30 ini Pak Dirjen akan ke Semarang, targetnya awal Oktober Wolbachia bisa dilakukan di Semarang," tambahnya.(eyf)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved