Berita Sragen

Januari hingga September, Satresnarkoba Polres Sragen Ungkap 49 Kasus Narkoba dan Obaya

Sebanyak 49 kasus peredaran narkoba dan obat-obatan terlarang berhasil diungkap Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Sragen

Penulis: Mahfira Putri Maulani | Editor: muslimah
TribunJateng.com/Mahfira Putri
Kasatreskoba Polres Sragen AKP Rini Pangestu ketika menunjukkan barang bukti sabu-sabu 

TRIBUNJATENG.COM, SRAGEN – Sebanyak 49 kasus peredaran narkoba dan obat-obatan terlarang berhasil diungkap Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Sragen selama Januari hingga September 2022.

Kasatresnarkoba AKP Rini Pangestu mengatakan 49 kasus itu melibatkan 58 tersangka yang sudah diamankan pihak kepolisian.

"Untuk diketahui bahwa dari Januari sampai 23 September kita sudah berhasil ungkap 49 kasus dan tersangka 58 orang," kata AKP Rini Pangestu.

Khusus September ini ada sembilan kasus dengan sembilan tersangka. Empat diantaranya kasus narkoba dan loka lainnya kasus obat-obatan berbahaya (obaya). Dari salah satu tersangka polisi menyita 16 paket sabu-sabu.

Hasil pengakuan tersangka, 16 paket sabu ini senilai Rp 4,5 juta. Setiap gram sabu-sabu dijual Rp 950 ribu sampai Rp 1 juta dan paket 0,25 gram Rp 300 ribu.

Lebih lanjut Rini menjelaskan dari Januari hingga September ini ada 26 kasus sabu-sabu dengan barang bukti 53,6 gram. Ganja tiga kasus dengan barang bukti 128,92 gram.

Selanjutnya tembakau sinte ada satu kasus 0,94 gram, Psikotropika sembilan kasus dengan barang bukti 413 butir dan obat-obatan 10 kasus barang bukti 4.902 butir.

Sementara itu, untuk tersangka, Rini mengatakan rata-rata ialah remaja dewasa dimana usia diatas 18 tahun. Seluruh pelaku juga pemain baru.

Rini mengatakan saat ini memang paling banyak obaya, mengingat harga sabu-sabu yang mahal sehingga pelaku beralih ke obaya dengan harga lebih murah dan memiliki efek nge-fly juga.

"Karena sabu mahal mereka beralih ke obaya dengan harga murah namun efeknya sama bikin koplo, nge-fly, lama-lama gak konsen. Mereka membeli sabu dan obaya ini tujuannya membeli obat, untuk dijual kembali mencari keuntungan," lanjut dia.

Sementara obat-obatan itu dijual pelaku untuk kelompoknya, anak sekolah hingga kirim melalui paket on-line dan juga dari teman ke teman.

Rini mengatakan obaya ini memberikan efek jangka panjang sehingga harus disembuhkan. Dirinya meminta kepada masyarakat apabila ada tetangga mengkonsumsi obaya agar melaporkan ke pihaknya.

"Merek ini kadang pingin lepas, tapi badan nagih ya efeknya semakin nambah. Jika terus-menerus syaraf kena, kasian kalau muda kalau bisa disembuhkan datang ke kantor kita kita rehab dari pada kita tangkap," pesannya.

Kepada tersangka untuk kasus obaya masing-masing pelaku dikenakan pasal 196/197 UU kesehatan dengan ancaman maksimal 10 tahun penjara.

Sementara perkara sabu dikenakan pasal 114-112 UU 35/2009 tentang narkotika dengan ancaman minimal 4 tahun dan maksimal penjara seumur hidup. (uti)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved