Rabu, 15 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

OPINI

Opini Paulus Mujiran: Duka Sepakbola Duka Kita Semua

JUMLAH korban meninggal dunia akibat tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu 1 Oktober 2022 lehih dari 125 orang. Bahkan beberapa sumber menyebut

Editor: m nur huda
Tribun Jateng
Opini Ditulis Oleh Paulus Mujiran, SSos, MSi (Pengamat Sosial dan Pecinta Sepakbola di Semarang) 

Keempat, tidak amannya pengelolaan suporter di tanah air. Hampir semua pertandingan hanya mengandalkan tiket untuk sarana masuk stadion. Sementara larangan membawa sabuk, gunting, pisau, batu, mercon, korek api tidak pernah menjadi perhatian serius. Harusnya setiap beberapa kilometer mendekati stadion sudah ada pemeriksaan sehingga yang masuk stadion menjadi benar-benar steril.

Namun lihatlah suasana pertandingan di liga-liga Indonesia selalu mencekam. Suporter di jalanan yang mengayun-ayunkan bendera membuat miris pengguna jalan. Belum lagi tim yang dibelanya kalah harus siap-siap menghindar dari jalan-jalan di sekitar stadion karena sudah dipastikan akan membuat onar. Selain harus belajar menerima kekalahan, suporter harus memahami klub kesayangan mereka masing-masing dan kompetisi itu sendiri.

Dunia sepakbola tidak hanya pertandingan melainkan ada kepentingan tim nasional, kepentingan bisnis, marketing politik, dan beraneka kepentingan lain karena mengerahkan massa dalam jumlah besar. Problem krusial yang selalu kurang diantisipasi adalah sebelum pertandingan dimulai dan setelah 2x45 ketika kekalahan dan kemenangan sudah diketahui. Karena setelah pertandingan usai bisa saja penonton yang kecewa lantas memprovokasi dan membuat onar.

Di negara-negara maju ketika usai pertandingan dan penonton masuk lapangan ada aparat yang siap membekuknya. Penonton juga dilarang mendekati bangku cadangan. Namun lebih dari itu penonton dibekali tanda pengenal yang ada chipnya sehingga ketahuan yang melakukan provokasi. Yang terjadi di Kanjuruhan ribuan penonton turun dari tribune dan gagal dicegah aparat keamanan. Sejauh mana kesiapan aparat menjadi tanda tanya besar.

Malahan aparat melepaskan tembakan gas air mata. Apakah ada dalam SOP? Kok menangani suporter sama dengan pengunjuk rasa. Beredar pula informasi penjualan tiket selama masa pandemi 75 persen dari total kapasitas stadion yakni sebanyak 45.449 penonton. Setelah 2 tahun dicekam pandemi pertandingan sepak bola adalah kartasis sosial.

Sayang, pengorganisasian cenderung merugikan suporter. Manajemen massa dalam hal ini suporter menjadi kunci dalam menyelesaikan masalah. Lalu lintas penonton saat masuk dan keluar stadion harus menjadi perhatian dan diantisipasi sejak awal.

Penggunaan gas air mata yang sudah dilarang FIFA kenapa digunakan? Tragedi Kanjuruhan menyisakan pesan urgensi pembenahan sistemik sepak bola tanah air. Musibah di berbagai negara adalah pelajaran berharga. Musibah di Lima, Peru 1964 dangan 318 korban jiwa, tragedi di Accra, Ghana tahun 2001 dengan 126 jiwa, dan tragedi Hillsborough di Sheffield, Inggris dengan 97 tewas pada 1989, sepatutnya membuat kita sigap membenahi persepakbolaan nasional.

Tragedi Kanjuruhan menambah pesan akan urgensi pembenahan sistemik mulai dari hulu sepak bola kita. Jangan sampai nyawa penonton kita menjadi korban sia-sia di kemudian hari (Kompas, 3/10). Tragedi ini memilukan dan sudah saatnya persepakbolaan tanah air berbenah jangan sampai nyawa melayang sia-sia di lapangan kerena kecerobohan pengelolaan dunia sepakbola. (*tribun jateng cetak)

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved