Ziarah, Bagian Melek Sejarah
Maka ziarah yang saya jalani kali ini ke makam mbah Gorpak Senthe Sultan Hadiwijoyo (Joko Tingkir) di Sragen menjadi bagian dari 'melek sejarah'
Meski tidak secara khusus dan periodik saya melakukan ziarah ke makam leluhur dan Aulia, tetapi sesekali menyempatkan diri untuk ziarah ke makam almarhum bapak Damanhuri Syiroj di Weleri, mbah KH Syirojudin dan KH Abdul Manan
di makam Tunggu, Sendang Mulyo Tembalang kota Semarang. Juga pernah beberapa kali ziarah ke kompleks makam Kerajaan Demak.
TRAH
Dalam peradaban Islam dikenal istilah 'sanad nasab', yakni silsilah keturunan berdasarkan hubungan pernikahan (dzuriyah). Islam sendiri bermakna "keselamatan". Ada 5 jaminan keselamatan dalam agama Islam, yaitu keyakinan, keturunan, kepemilikan (hak milik), jiwa raga dan profesi (pekerjaan).
Dalam budaya Jawa, ada istilah garis keturunan hingga ke-18. Garis keturunan itu disebut dengan Trah. Di keluarga Jawa, orang tua biasa dipanggil dengan sebutan Bapak dan Ibu atau 'Pak-e dan simbok/mbok-e'. Orang tua dari ibu/bapak disebut Simbah, Embah atau Eyang. Berikutnya trah berturut-turut ke 3 sd 18 adalah Buyut, Canggah, Wareng, Udheg-udheg, Gantung Siwur, Gropak Senthe, Debog Bosok, Galih Asem, Gropak Waton, Cendheng, Giyeng, Cumpleng, Ampleng, Menyaman, Menya-menya dan Tumerah.
Saya dilahirkan dari orang tua, bapak Damanhuri Syiroj bin KH Syirojudin dari Tunggu, kelurahan Sendangmulyo, Tembalang kota Semarang dan ibu Hj. Mubahanah binti Abdul Rosjid dari Kadirejo, kecamatan Karanganom, Klaten. Dari penelusuran Trah, saya menjadi tahu bahwa nama Jalan KH Syirojudin yang disematkan di depan kompleks Universitas Diponegoro Tembalang Semarang merupakan penghargaan Pemkot Semarang atas jasa besar mbah KH Syirojudin dalam membangun peradaban di kawasan Tembalang pada masa pra kemerdekaan hingga pasca kemerdekaan. Menurut penuturan para sesepuh, jaman dahulu wilayah Tembalang, Rowosari, Meteseh dan sekitarnya adalah daerah yang rawan keamanan. Disebabkan banyak pelaku kriminal (begal, maling, perampok) berasal dan beraksi di sekitar wilayah itu.
Dengan dakwah bil hikmah, mauidhah hasanah wa jadilhum billati hiya ahsan, mbah Buyut KH Abdul Manan mendakwahkan Islam rahmatan lil alamin. Kemudian dilanjutkan oleh mbah KH Syirojudin beserta saudara lain putra-putri mbah Buyut KH Abdul Manan. Hingga saat ini tugas dakwah dilanjutkan oleh trah KH Abdul Manan hingga ke berbagai kabupaten/kota se Jawa Tengah. Selain itu dakwah Islam Nusantara Berkemajuan juga dilakukan oleh para santri yang telah dididik melalui berbagai majlis taklim dan pondok pesantren trah (bani) KH Abdul Manan. Tidak saja di wilayah Jateng, tapi juga melebar hingga ke luar pulau Jawa dan luar negeri.
Ketika saya lahir diberi nama Hafidh Syirojudin, mengambil nama belakang mbah KH Syirojudin. Sebuah nama yang ditulis dengan "huruf pegon" (Arab-Jawa) di buku nikah oleh bapak. Saya baru tahu ketika mau lulus SMP, setelah diperlihatkan buku nikah oleh ibu. Sementara ijazah MI/SD saya terlanjur tertulis Khafid Sirotudin. Akhirnya kebablasan hingga sekarang 'nama formal' itu yang tercantum di berbagai dokumen resmi milik saya.
Melalui WA Group Bani KH Abdul Manan, saya menjadi mengetahui bahwa Sultan Hadiwijoyo (Joko Tingkir) adalah mbah 'Gropak Senthe' kami. Dan sayapun menjadi mafhum ketika lagu 'Joko Tingkir Ngombe Dawet' viral dan terkenal memicu sebagian trah (dzuriyah)-nya tersinggung dan memprotes pengarang lagu itu. Sayapun bersyukur akhirnya pengarang lagu itu meminta maaf secara terbuka, melalui berbagai saluran media sosial, lalu mengganti narasi lagu dengan "Tukang Parkir Ngombe Dawet".
Sebuah pelajaran berharga bagi kita agar tidak serampangan dalam membuat syair lagu. Mengingatkan saya akan sejarah pertentangan para seniman yang mengusung kebebasan 'Art for art' dengan seniman yang memasang tagline 'art for people' di masa Orde Lama.
Seperti sesanti yang pernah disampaikan Presiden Soekarno, betapa pentingnya "Jas Merah" (jangan sampai meninggalkan sejarah). Maka ziarah yang saya jalani kali ini ke makam mbah Gorpak Senthe Sultan Hadiwijoyo (Joko Tingkir) di Sragen menjadi bagian dari 'melek sejarah', meneladani laku sosial trah, sekaligus menunaikan pesan keagamaan "birul walidain" yang baik, sebagai amal shalih seorang Jawa-Muslim. Semoga saya tidak ikut terjebak ke dalam "cultural-lag, civilization-gap atau kejumudan millenial", serta tidak harus terjerumus ke dalam kesyirikan sebagaimana disampaikan oleh sebagian ustadz ketika mengisi pengajian ahad pagi.
Wallahua'lam
*). Khafid Sirotudin, Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PWM Jateng
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ziarah-joko-tingkar.jpg)