Fesyen dan Kuliner Penyumbang Terbesar Ekonomi Kreatif
sektor fesyen dan kuliner sebagai satu dari 17 subsektor ekonomi kreatif Indonesia memberikan sumbangan positif terhadap pemulihan ekonomi nasional
TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop-UKM), Siti Azizah mengatakan, sektor ekonomi kreatif dapat menjadi sumber dan kekuatan ekonomi baru.
Ia menyebut, sektor fesyen dan kuliner sebagai satu bagian dari 17 subsektor ekonomi kreatif Indonesia yang memberikan sumbangan positif terhadap pemulihan ekonomi nasional.
"Kalau kami lihat memang sektor fesyen dan kuliner merupakan salah satu bagian dari 17 subsektor ekonomi kreatif Indonesia yang secara positif walau dalam kondisi pandemi," katanya, dalam acara Arqam Accelerator Fashion & Beauty Care Demo Day 2022, di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Senin (10/10).
Berdasarkan data dari State of The Global Islamic Economy Report pada 2019, Siti menuturkan, Indonesia menjadi runner up negara yang mengembangkan fesyen muslim terbaik.
Padahal, pada tahun sebelumnya Indonesia tidak masuk dalam 10 besar. "Memang Indonesia sangat potensial di dunia fesyen," ujarnya.
Menurut dia, konsumsi belanja Indonesia terhadap busana muslim mencapai 20 miliar dollar AS atau setara Rp 279 triliun. Angka itu menjadi yang terbesar ketiga di antara negara anggota organisasi kerajaan Islam (OKI).
Siti menyatakan, selama masa pandemi covid-19 banyak masyarakat lebih memperhatikan kondisi kulit mereka selama di rumah. Sehingga, penjualan skincare mengalami peningkatan cukup drastis.
"Skincare penjualannya naik di masa pandemi, karena para ibu bapak juga menggunakan skincare untuk mempercantik dirinya daripada di rumah melihat kaca mungkin ada yang kurang bagus kulitnya," ucap dia.
Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, CEO & Founder Alami Group Dhima Djani menjabarkan, adanya adaptasi kebiasaan baru akibat pandemi covid-19 telah menggeser pola belanja dari offline menjadi online.
Hal itu terlihat dengan meningkatnya transaksi online produk kosmetik sebesar 80 persen.
Sementara, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja industri kimia, farmasi, dan obat tradisional (termasuk sektor kosmetik) pada triwulan I/2020 mengalami pertumbuhan yang gemilang sebesar 5,59 persen.
Di tengah tekanan dampak pandemi covid-19, kelompok manufaktur ini mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap devisa melalui capaian nilai ekspornya yang menembus 317 juta dollar AS, atau sekitar Rp 4,44 triliun pada semester I/2020, naik 15,2 persen dari periode sama tahun lalu.
"Kalau kita lihat data ini, kami optimistis dunia fesyen kecantikan Indonesia akan terus berkembang," tandasnya. (Kompas.com/Agustinus Rangga Respati)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/geliat-batik-di-semarang2.jpg)