Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Adu Gaya Busana Batik Napi Perempuan Semarang

Kaki Erma Rosmalinda berjalan meliuk-liuk saat mengenakan sepatu hak tinggi.

Penulis: Agus Salim Irsyadullah | Editor: sujarwo

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kaki Erma Rosmalinda berjalan meliuk-liuk saat mengenakan sepatu hak tinggi, di jalanan halaman Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas II A Semarang. 

Bersama 11 Napi wanita lain, ia bergantian adu gaya busana batik di halaman yang disulap jadi ajang Bui Fashion Week. Sebuah pameran busana batik karya narapidana wanita di sana.

Komposisi riasan wajah yang seimbang, membuat mereka tampil anggun dan mempesona. 

Perempuan dengan batik berwarna hitam dengan gambar gajah dan hiasan bunga-bunga itu, tak sedikitpun canggung saat beradu gaya di depan kamera.

"Saya sudah beberapa kali ikut fashion show di sini," katanya seusai acara Bui Fashion Week pada Kamis (13/10/2022).

Fashion Show, kata dara cantik kelahiran Gerobogan itu, menjadi satu di antara aktivitas yang dinanti untuk membunuh rasa jenuh dan bosan selama menjalani masa pidana.

Selain itu, masa pidana yang ia jalani di Lapas dihabiskan untuk belajar membatik.

Beberapa napi saat memperagakan busana batik di acara Bui Fashion Week di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas II A Semarang, Kamis (13/10/2022)
Beberapa napi saat memperagakan busana batik di acara Bui Fashion Week di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas II A Semarang, Kamis (13/10/2022) (Tribun Jateng/Agus Salim Irsyadullah)

Diakuinya, Erma begitu disapa, ingin menciptakan produk batik yang bisa dijual ke luar seperti narapidana lainnya.

"Batik karya napi di sini sudah ada yang laku sampai luar negeri. Meskipun belum ada karya, saya ingin mencapai itu," tuturnya.

Keterampilan membatik, menurutnya bisa ia manfaatkan kelak sehabis masa pidananya.

Kepala Lapas Perempuan Semarang Kristiana Hambawani mengatakan, ajang Bui Fashion week menjadi langkah awal bagi napi untuk mengasah keterampilan sekaligus bekal kembali ke masyarakat.

"Status narapidana di kalangan masyarakat kesannya kan negatif. Kita berusaha menghapus stigma itu agar napi bisa kembali ke masyarakat tanpa tekanan," katanya.

Melalui ajang ini, ia juga ingin menginformasikan dan mempromosikan produk-produk karya narapidana ke masyarakat luas. 

"Sudah ada produk dari napi berupa batik dan tas sulam pita yang terjual ke Kanada, Belanda, dan Qatar," sambungnya.

Selain membatik, napi di Lapas Perempuan Semarang bebas memilih skil yang ingin ditekuni. 

Beberapa napi saat memperagakan busana batik di acara Bui Fashion Week di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas II A Semarang, Kamis (13/10/2022)
Beberapa napi saat memperagakan busana batik di acara Bui Fashion Week di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas II A Semarang, Kamis (13/10/2022) (Tribun Jateng/Agus Salim Irsyadullah)
Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved