Rabu, 6 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Kesehatan

Senduduk, Tanaman Cantik yang Bermanfaat Sebagai Obat Herbal Sembuhkan Penyakit

Senduduk atau Melastoma malabathricum merupakan keluarga Melastomaceae yang telah lama dimanfaatkan

Tayang:
Editor: galih permadi
budi santoso/BKSDA Jateng
Senduduk atau Melastoma malabathricum merupakan keluarga Melastomaceae yang telah lama dimanfaatkan 

TRIBUNJATENG.COM - Senduduk atau Melastoma malabathricum merupakan keluarga Melastomaceae yang telah lama dimanfaatkan masyarakat untuk sembuhkan penyakit secara herbal. 

Bunganya tidak hanya cantik, Senduduk biasa digunakan sebagai bahan pangan, pewarna dan obat oleh penduduk asli di Indonesia dan negara lain.

Melastoma malabatrichum memiliki dua subspesies dan tiga kultivar yang diklasifikasikan menurut warna kelopaknya, yaitu magenta pink muda, magenta ungu tua dan putih (Silalahi, 2020). 

Deskripsi 

Senduduk merupakan perdu yang banyak ditemukan di Indonesia.

Tanaman ini memiliki mahkota bunga berwarna ungu yang cantik, sehingga sering dijadikan sebagai tanaman hias.

Buah ini juga sering dimakan, terutama oleh mereka yang tinggal di pedesaan.

Senduduk dapat mencapai ketinggian 5 meter.

Kulit batang berwarna coklat, dengan kulit batang muda berbentuk lonjong dan tertutup sisik.

Seiring bertambahnya usia, bentuk batang berubah menjadi giliger.

Daun berbentuk lonjong - lanset, dengan panjang 6-15 cm dan lebar 2-6,5 cm.

Pangkal daun membulat dan ujungnya meruncing.

Permukaan atas daun ditutupi dengan rambut dan permukaan bawah ditutupi dengan sisik dan rambut.

Urat daun utama bervariasi dari 5 atau 7. 

Perbungaan Senduduk terbatas, terhubung ke malai apikal, bunga dengan 3-12 kuncup, jarang soliter.

Jumlah bagian bunga umumnya 5, tetapi bagian bunga kelipatan 6, 7 atau 8. Corolla ungu, jarang putih, sungsang-bulat telur.

Benang sari bisa dimorfik atau sederhana. Ovarium lebih pendek dari tabung kelopak dan berakhir dengan rambut emas.

Buah dan biji: Kapsul buah berdaging, bulat, panjang 6,5-11,5 mm dan lebar 5-10,5 mm, pecah saat matang. Pulpnya berwarna biru tua. Biji berwarna jingga (Silalahi, 2020).

Habitat

Senduduk banyak tumbuh sebagai gulma di lahan pertanian.

Namun demikian tumbuhan ini dapat tumbuh di sembarang tempat, baik yang ternaungi cahaya matahari maupun terbuka.

Senduduk merupakan pionir yang agresif karena kemampuan bijinya berkecambah cepat, menginvasi tempat- tempat terbuka, tanah longsor, tepi jalan, jalan setapak, ladang yang diberakan dan rumpang di hutan serta toleran terhadap naungan.

Tumbuh sebagai gulma di lahan pertanian tanaman keras, seperti karet, kelapa, kelapa sawit, dan jati. Hidup di dataran rendah sampai ketinggian 2.000 mdpl (Susanti et al., 2013). 

Kandungan Fitokimia

Beberapa penelitian telah dilakukan pada Senduduk. salah satunya yang menguraikan bahwa ekstrak etanol daun Senduduk dengan konsentrasi 10-100 persen memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus, serta memiliki aktivitas penghambatan yang kuat hingga sangat kuat terhadap pertumbuhan beberapa bakteri lain seperti Bacillus subtilis, Bacillus cereus dan Escherichia coli. Senduduk juga memiliki kemampuan menghambat bakteri S. typhi dengan konsentrasi ekstrak daun yang paling efektif dalam menghambat bakteri S. typhi yaitu 60 % (Handayani et al., 2017).

Manfaat

Berdasarkan survei di beberapa pasar tradisional di Jawa Barat terutama di Kota Bekasi, bunga khususnya benang sari telah lama diperjual-belikan untuk digunakan sebagai bahan sayuran.

Selain digunakan sebagai bahan pangan, ternyata berbagai laporan penelitian menyatakan bahwa Senduduk banyak digunakan sebagai bahan obat tradisional.

Berbagai etnis lokal di Indonesia memanfaatkan Senduduk sebagai obat tradisional.

Pedagang tumbuhan obat di Pasar tradisional Kabanjahe, Sumatera Utara memanfaatkan daun Senduduk untuk mengatasi diare, patah tulang, dan bahan sauna tradisional atau oukup.

Daun Senduduk oleh masyarakat Batak Simalungun di Sumatra Utara, dimanfaatkan untuk mengatasi gangguan saluran pencernaan dan luka.

Suku Dayak Pesaguan di Kalimantan Barat, memanfaatkan Senduduk untuk mengatasi jengkolan (keracunan jengkol), kejang, dan ayan.

Dayak Iban memanfatkannya untuk mengatasi sakit perut dan sariawan, sedangkan suku Anak Dalam di Jambi memanfaatkan untuk mengatasi diare.

Selain masyarakat lokal di Indonesia, ternyata masyarakat lokal di Malaysia juga memanfaatkan Senduduk terutama untuk penyembuhan luka karena memiliki aktivitas antibakteri.

Tumbuhan ini juga bermanfaat sebagai antikanker, dapat menjaga fungsi hati, antikolesterol, serta anti diabetes mellitus (Silalahi, 2020). 

Sebaran

Tumbuhan ini berasal dari Amerika Tropis dan telah diperkenalkan di Indonesia khususnya di Jawa sudah lebih dari satu abad yang lalu (Susanti et al., 2013).

Pada kawasan Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi Pati Barat Senduduk dapat ditemukan di Cagar Alam (CA) Kembang, CA Keling Iabc, CA Keling II/III dan CA Gunung Celering yang ada di Kabupaten Jepara.

Penulis

Maysya Alicia S (Fabio Unsoed)

Budi Santoso (KPHK Pati Barat)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved