Fokus

Fokus : Yuk Mulai Berhitung

Bagi masyrakat biasa, jika resesi ekonomi benar-benar terjadi di tahun 2023 alias beberapa bulan ke depan, apa persiapan yang harus dilakukan?

Penulis: muslimah | Editor: Catur waskito Edy
tribunjateng/bram
Muslimah wartawan tribunjateng.com 

Oleh Muslimah

Wartawan Tribun Jateng

Bagi masyrakat biasa, jika resesi ekonomi benar-benar terjadi di tahun 2023 alias beberapa bulan ke depan, apa persiapan yang harus dilakukan? Itulah pertanyaan banyak orang saat ini. Sangat penting agar dampak dari resesi bisa diminimalisir.

Dalam beberapa waktu terakhir, kata resesi cukup menyita perhatian. Mejeng di pemberitaan bersama kasus-kasus besar lainnya seperti sidang Ferdy Sambo hingga berita tragedi yang memakan banyak korban jiwa yang mendominasi peristiwa di bulan Oktober 2022 lalu. Dari tragedi Kanjuruhan Indonesia, jembatan runtuh di India, hingga tragedi Itaewon Korea Selatan.

Potensi bakal terjadi resesi di 2023 sudah diprediksikan oleh berbagai pihak. Dari mulai Bank Dunia, Dana Moneter Internasional (IMF), pemerintah, dan juga pengamat ekonomi.

Indikator sudah terlihat, diantaranya laju inflasi yang disebut semakin merangkat naik. Kemudian negara-negara maju yang dimulai dari negara-negara di Eropa, Amerika hingga China yang perekonomiannya dikabarkan makin melambat.

Pelambatan diakibatkan oleh berbagai sebab. Seperti dampak langsung perang Rusia dan Ukraina dimana berakibat harga gas alam melonjak.Pandemi Covid-19 yang hingga kini masih menghantui beberapa negara juga ikut memberikan kontribusinya.

Presiden Jokowi, beberapa waktu lalu secara khsusus menyoroti ancaman resesi ini. Ia mengungkapkan jika ekonomi saat ini sudah sangat sulit, maka di tahun 2023 akan lebih sulit lagi.

Presiden membocorkan sejumlah negara sudah mengantre untuk menjadi pasien IMF. Menurutnya, saat ini sudah ada 14 negara yang menjadi pasien IMF, dan ada 28 negara lagi yang mengantre di depan pintu IMF.

"Diperkirakan akan muncul 66 negara. Banyak yang menyampaikan tahun 2023 akan gelap signifikan," kata Jokowi.

Menteri Keuangan Sri Mulyani bahkan sudah memberikan bocoran waktunya. Dia menyebut krisis pangan akan menghampiri dunia dalam kurun waktu 8-12 bulan ke depan.

Memang, konon dikatakan Indonesia termasuk negara yang tahan banting. Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva dalam akun resmi Instagram-nya, bahkan mengapresiasi Indonesia yang bisa meraih pertumbuhan ekonomi tinggi di tengah kondisi dunia yang berat.

Dalam bahasa Inggris ia mengatakan, Indonesia menjadi titik terang dalam ekonomi global yang memburuk.

Tentu saja, pujian Direktur IMF tidak boleh membuat kita terlena. Harus ada langkah konkrit dari pemerintah untuk menjaga kestabilan ekonomi.

Apalagi ini sudah diprediksikan sehingga harusnya lebih mudah mengatasinya, dibandingkan sebagai misal saat wabah Corona melanda yang datang tiba-tiba tanpa persiapan.

Bahkan ada yang mengatakan memang sebaiknya ancaman resesi diberitakan secara masif. Bukan untuk menakut-nakuti, melainkan agar masyarakat mulai membuat perhitungan sejak sekarang, bahwa ancaman resesi itu memang ada.

Jadi, apa yang bisa dilakukan warga masyarakat menghadapi ancaman resesi? Bagi yang memiliki banyak harta, disarankan menjual barang yang tak begitu diperlukan dan menggantinya dengan barang yang punya nilai stabil seperti emas, lalu berhemat. Yang paling penting, mari kita selalu membuka mata dan pikiran untuk selalu melihat peluang yang ada di sekitar kita. (*)

Baca juga: Klarifikasi Promotor Dyandra Edutainment Soal Pemberhentian Konser NCT 127, Ini Imbauan Hari Kedua

Baca juga: Hasil Hylo Open 2022: Ginting, Gregoria dan Lisa/Rehan Tembus Semifinal, Ini Jadwal Selanjutnya

Baca juga: Chord Kunci Gitar Mencintaimu Keangkuhanmu The Fly

Baca juga: Anakku Mati Diracun! Teriak Ayah 2 Remaja Putri Korban Tragedi Kanjuruhan di Lokasi Autopsi

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved