Berita Kudus

Mitigasi Bencana Berbasis Kearifan Lokal, MRC Teliti Tujuh Daerah di Kudus

Peneliti Muria Research Center (MRC) Indonesia melakukan studi penelitian mitigasi bencana berbasis kearifan lokal di tujuh desa Kabupaten Kudus

Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: Catur waskito Edy
Rezanda Akbar D
Diskusi Mitigasi Bencana dengan kearifan lokal oleh Tim MRC 

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS — Peneliti Muria Research Center (MRC) Indonesia melakukan studi penelitian mitigasi bencana berbasis kearifan lokal di tujuh desa Kabupaten Kudus di pinggir hutan muria diantaranya, Desa Ternadi, Kajar, Colo, Japan, Rahtawu, Soco dan Menawan.

Kegiatan penelitian ini dilakukan sejak Mei sampai Oktober 2022. 

Hal ini berguna untuk mengetahui sejauh mana perilaku masyarakat setempat dalam mengantisipasi terjadinya bencana di lereng Pegunungan Muria.

Ketua Tim MRC Indonesia, Mochamad Widjanarko, mengatakan penelitian itu memiliki tujuan yang berguna untuk melakukan dokumentasi dan mencari informasi.

"Nantinya penelitian tersebut berguna untuk mengetahui perilaku kearifan lokal masyarakat pegunungan muria," ujarnya saat dikonfirmasi Selasa (22/11/2022).

Dia mengatakan bahwa Desa Colo juga termasuk dalam wilayah yang memiliki riwayat rawan bencana sampai saat ini. 

Hal itu dibuktikan dengan terjadinya kebakaran hutan di tahun 2000 dan tanah longsor pada tahun 1952 dan 2022.

"Desa Colo saat ini rawan bencana. Karena memiliki riwayat bencana yang pernah terjadi ditahun 1952 dan 2022 tanah longsor, dan kebakaran hutan tahun 2000," tuturnya.

Pihaknya mengungkapkan, dengan adanya sedekah bumi, budaya barikan, dan wiwit kopi. 

Semua itu, merupakan contoh perilaku mitigasi bencana yang dijumpai dalam penelitian berbasis kearifan lokal. 

Diharapkan masyarakat sekitar dapat memperhatikan hal tersebut.

"Dengan adanya kegiatan itu, diharapkan masyarakat lebih perhatian terhadap kearifan lokal yang ada. Sebab itu berguna dalam rangka mencegah terjadinya bencana dan menjaga kelestarian alam," terangnya.

Sementara itu, MRC melakukan penelitian perilaku mitigasi bencana yang diaplikasikan melalui keyakinan, pengetahuan, wawasan, dan etika. 

Seperti, pada wiwit kopi, terdapat edukasi masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan.

"Selain itu, sedekah bumi juga bisa menjadi pembelajaran agar manusia hidup di bumi dapat bersinergi dengan makhluk lain untuk mencapai ekosistem yang baik," pungkasnya. (Rad)

Baca juga: Bantu Korban Gempa, Satpol PP Kota Semarang Kirim Anggota Ke Cianjur 

Baca juga: Ahli Waris Perangkat Desa, RT, dan BPD di Kudus Terima Klaim BPJS Ketenagakerjaan

Baca juga: Stabilkan Harga Tomat, Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang Akan Jalin Kerjasama Dengan Petani

Baca juga: Pegadaian Naikkan Plafon Gadai Tanpa Bunga, Nasabah Bisa Pinjam Dana hingga Rp 2,5 Juta

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved