Selasa, 28 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Guru Berkarya

Model Pembelajaran Cooperative Learning Pada Pembelajaran Narrative Text

Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan sistem belajar

Penulis: Abduh Imanulhaq | Editor: galih permadi
IST
Lindha Hervenik, S.Pd.,Guru Bahasa Inggris SMP Negeri 3 Teras, Kec. Teras, Kab. Boyolali 

Oleh: Lindha Hervenik, S.Pd., Guru Bahasa Inggris SMP Negeri 3 Teras, Kec. Teras, Kab. Boyolali

Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan sistem belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran (Saefuddin & Berdiati, 2014, hlm. 48).

Pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksi konsep, menyelesaikan persoalan, atau inkuiri.

Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif), tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang, siswa heterogen (kemampuan, gender, karekter), ada control dan fasilitasi, dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi.

Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi, pengarahan-strategi, membentuk kelompok heterogen, kerja kelompok, presentasi hasil kelompok, dan pelaporan.

Tujuan utama cooperative learning adalah agar siswa dapat belajar berkelompok dengan saling menghargai pendapat dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menyampaikan pendapatnya, saling bekerja bersama dalam menyelesaikan tugas.

Pada pembelajaran Bahasa Inggris di kelas IX  SMP Negeri 3 Teras, Kecamatan Teras ini, siswa diharapkan dapat membandingkan  fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan dari beberapa teks naratif  lisan dan tulis dengan memberi dan meminta informasi terkait fairy tales, pendek dan sederhana sesuai dengan konteks penggunaannya.

Serta siswa diharapkan dapat menangkap makna secara kontekstual terkait fungsi sosial, struktur teks dan unsur  kebahasaan  teks naratif, lisan dan tulis, pendek dan sederhana terkait fairy tales.

Agar pembelajaran kooperatif dapat terlaksana dengan baik, guru memberikan lembar kegiatan yang berisi pertanyaan atau tugas yang direncanakan untuk dikerjakan kepada siswa.

Selama kerja kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi yang disajikan guru dan saling membantu teman kelompok mencapai ketuntasan.

Dalam pembelajaran kooperatif ini, guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan. Hubungan yang saling membutuhkan inilah yang dimaksud dengan saling memberikan motivasi untuk meraih hasil belajar yang optimal.

Materi yang disajikan tersebut adalah mengenai cerita rakyat berjudul ‘Sangkuriang’, kemudian menyampaikan motivasi tentang apa yang dapat diperoleh (tujuan & manfaat) dengan mempelajari materi  Teks Naratif tersebut serta menjelaskan hal-hal yang akan dipelajari, kompetensi yang akan dicapai.

Siswa berdiskusi untuk menjawab 5 pertanyaan essay, untuk mengecek pemahaman tentang fungsi sosial dan struktur teks (di buku catatan), menyusun kalimat rumpang menjadi sebuah  paragraph teks naratif, menggaris bawahi kata kerja yang ditemukan dalam teks. Setiap kelompok bertanggungjawab untuk mempresentasikan hasilnya.

Dari hasil belajar berkelompok tersebut, siswa diharapkan dapat menangkap pesan yang tersirat dalam teks naratif yang terkait dengan fairy tales, siswa dapat menjelaskan fungsi sosial teks naratif dengan benar, menyimpulkan pesan moral teks naratif berjudul Sangkuriang dengan tepat, mengubah teks lisan narrative berjudul Sangkuriang yang dibaca guru menjadi teks tulis dengan ejaan dan tanda baca yang benar.

Pembelajaran menjadi lebih menarik dan siswa lebih bersemangat karena menggunakan Model Pembelajaran Cooperative Learning, siswa berkesempatan dalam menuangkan pendapat dan pikirannya.

Pembelajaran dengan Model Pembelajaran Cooperative Learning dapat menciptakan suasana kebersamaan saling gotong royong satu sama lain, siswa menjadi lebih aktif dalam mengemukakan pendapatnya, serta menumbuhkembangkan sikap percaya diri, dalam pembelajaran di kelas menjadi lebih bermakna.(*) 

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved