Wawancara Khusus
Mantan Bupati Seno Samodro: Boyolali Menjadi Seksi
Wawancara khusus Seno Samodro, Bupati Boyolali periode 2010-2015 dan 2016-2021.
Penulis: khoirul muzaki | Editor: sujarwo
TRIBUNJATENG.COM, BOYOLALI - Wawancara khusus Mantan Bupati Boyolali Seno Samodro, Bupati Boyolali periode 2010-2015 dan periode 2016-2021.
Kegiatan setelah tidak menjabat Bupati Boyolali?
Setelah pensiun, saya kembali ke hobi, yakni main musik, bola, film, nge-band sendiri, menyanyi sendiri dan dinikmati satu komunitas.
Awal mula terjun di dunia politik?
Buah jatuh tak jauh pohonnya. Begitupun saya. Bapak saya berlatarbelakang politik. Sehingga politik sudah menjadi makanan saya tiap hari. Ya sudah jalurnya itu, ikuti saja.
Berawal saya bekerja di kedutaan besar di Prancis, lalu pulang cuti ke Indonesia 40 hari. Di situ saya bertemu teman-teman lama. Saya suka mentraktir sehingga dicap “lumo” (dermawan). Lalu dari teman, komunitas, kita berhubungan baik. Hingga saya tiba-tiba dicalonkan sebagai Wakil Bupati, dan jadi. Lalu dicalonkan sebagai bupati, jadi lagi. Begitu, mengalir saja.
Pernah dinobatkan Top Regent of The Year tahun 2017, apa kiatnya?
Untuk membangun Boyolali, kuncinya satu, dengarkan rakyat maunya apa. Rakyat yang diminta sederhana, jalan bagus, ya sudah saya bangun jalan biar lebar dan bagus untuk memenuhi harapan rakyat.
Karena saya sudah disumpah untuk melayani masyarakat, maka dengarkan suara masyarakat. Dari situ muncul inovasi yang bisa diterapkan dan mengena di hati rakyat.
Pernah dapat penghargaan tata kelola pemerintahan yang baik, bagaimana kiatnya?
Jadi pemimpin harus amanah. Waktu kampanyenya apa, itu yang harus diwujudkan. Sehingga rakyat senang. Namun biasanya calon pemimpin menang Pilkada, yang dipikir modal cepat kembali (BEP). Kalau begitu caranya, rakyat remuk. Padahal rakyat menunggu pemimpinnya bisa merealisasikan janji kampanyenya. Namun pemimpin yang ditunggu, jawabannya beda dengan kehendak rakyat. Itu yang menjadi kelemahan tata kelola pemerintahan.
Kenapa tidak terjun politik lagi?
Periode kedua kepemimpinan saja sebenarnya saya tidak mau. Capek juga mikirin rakyat terus. Setelah pensiun, saya ingin menikmati hidup ini, karena kata orang hidup ini indah.
Harapan ke Bupati Said Hidayat?
Said salah satu kader terbaik saya, dulu dia ketum tim Sukses. Semoga dia jadi bupati hebat. Saya optimis itu. Karena waktu saya membangun hanya dengan anggaran Rp 300 miliar, sekaranng Rp 500 miliar. Dengan anggaran besar, Boyolali mestinya cepat bersolek. Pesan saya, lakukan terbaik, semua untuk rakyat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/seno-samudra.jpg)