Wawancara Khusus
Mantan Bupati Seno Samodro: Boyolali Menjadi Seksi
Wawancara khusus Seno Samodro, Bupati Boyolali periode 2010-2015 dan 2016-2021.
Penulis: khoirul muzaki | Editor: sujarwo
Ada program yang dilanjutkan bupati sekarang?
Kalau melihat visi misi bupati sekarang, mau meneruskan (program saya).
Saya bangga ide diteruskan siapapun, terutama kaum milenial. Jangan lupa, saya persiapkan Boyolali dengan smart city. Saya bikin proyek fiber optic sehingga blank spot semakin tidak ada. Sepanjang 80-100 kilometer nyaris tidak ada blank spot. Main Wifi kencang.
Sebagai jurnalis (dulu), mengapa lebih tertarik dunia sepakbola?
Sejak kecil saya suka bola, senang nonton. Orang mencintai bola seperti orang gila. Kalau di Boyolali ada Persebi, saya rela keluar duit untuk Persebi, mungkin melebihi dari yang saya kasihkan ke istri. Tomboknya bisa ratusan juta hingga miliaran.
Saya pernah bekerja sebagai jurnalis, khusus meliput sepakbola. Dari situ, saya berkesempatan keliling dunia untuk meliput olahraga. Setiap negara yang saya kunjungi, yang pertama saya lihat adalah stadion.
Stadion paling berkesan?
Stadion paling berkesan bagi saya adalah stadion Monako. Stadion itu dikelilingi mall, bagi saya aneh. Kapasitas stadion 22 ribu orang. Sementara populasi penduduk kota itu hanya 30 ribu orang. Jadi kalau penduduk menonton sepakbola di stadion, kota jadi sepi.
Dari pengalaman perjalanan travelling, setiap saya melihat sesuatu yang unik, di setiap sudut kota yang artistis, saya contek dan coba bangun di Boyolali. Sehingga Boyolali menjadi kota kecil yang “seksi” , nyaman dikunjungi dan ditinggali siapapun tanpa memandang SARA. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/seno-samudra.jpg)