Selasa, 7 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Bernostalgia di Bangunan Tua Eks Studio Foto Gerak Cepat Semarang

Sebuah bangunan berusia ratusan tahun masih berdiri kokoh di Jalan Layur Semarang.

Penulis: Agus Salim Irsyadullah | Editor: sujarwo
Tribun Jateng/Agus Salim Irsyadullah
Tampak depan, rumput liar tumbuh di dinding bekas Studio Foto Gerak Cepat rumah yang kini telah dijadikan sebagai cagar budaya oleh Pemkot Semarang sekaligus rumah bagi Nurul Hidayah bersama suaminya di jalan Layur no 121 Semarang, Jumat (13/1/2023). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Ketika beberapa bangunan di Kota Lama Semarang mengalami pemugaran, sebuah bangunan berusia ratusan tahun masih berdiri kokoh di sudut Jalan Layur nomor 121 Dadapsari, Semarang Utara. Atau orang biasa menyebut kampung Melayu Semarang.

Bangunan berlantai dua itu memiliki atap yang dipenuhi dedaunan pohon besar. 

Beberapa tumbuhan liar menggelayut menutupi sebagian tembok depan. 

Di dalam rumah, sebuah pohon besar tumbuh menyatu bersama dinding. Bahkan, menembus atap.

"Lusuh dan seperti tak terjamah orang. Ya begitu kesan saat orang pertama kali berkunjung di rumah ini," kata pemilik rumah, Nurul Hidayah pada Jumat (13/1/2023).

Kepada Tribunjateng.com, ibu tiga anak tersebut adalah anak dari Ali Machroos bin Abdullah Machroos, warga keturunan Arab sekaligus pemilik "Studio Seni Foto Gerak Cepat". Sebuah studio foto yang melegenda di zaman penjajahan Belanda.

Penanda Studio Foto Gerak Cepat di jalan Layur no 121 Semarang telah dijadikan sebagai cagar budaya oleh Pemkot Semarang, Jumat (13/1/2023).
Penanda Studio Foto Gerak Cepat di jalan Layur no 121 Semarang telah dijadikan sebagai cagar budaya oleh Pemkot Semarang, Jumat (13/1/2023). (Tribun Jateng/Agus Salim Irsyadullah)

Jasa fotografi mendiang ayahnya, disebut Nurul bahkan telah menjadi studio terbesar di Semarang

"Dulu studio ini pernah berjaya pada masanya," imbuhnya

Untuk menjawab rasa penasaran, Nurul mencoba membawa kami melihat ingatan masa lalunya melalui beberapa foto yang ditunjukkan.

Koleksi foto karya mending ayahnya, masih ia simpan rapi baik dalam bentuk digital maupun dokumen.

Nurul bercerita, di saat jasa studio lain membutuhkan waktu berhari-hari untuk mencetak foto, Studio Seni Foto Gerak Cepat milik mendiang ayahnya hanya membutuhkan waktu satu jam untuk menunggu foto hingga jadi.

"Itulah sebabnya, banyak orang berdatangan untuk menggunakan jasa foto di studio ini," paparnya.

Kondisi terkini di lantai 2 bekas Studio Foto Gerak Cepat rumah yang telah dijadikan sebagai cagar budaya oleh Pemkot Semarang sekaligus rumah bagi Nurul Hidayah bersama suaminya di jalan Layur no 121 Semarang, Jumat (13/1/2023).
Kondisi terkini di lantai 2 bekas Studio Foto Gerak Cepat rumah yang telah dijadikan sebagai cagar budaya oleh Pemkot Semarang sekaligus rumah bagi Nurul Hidayah bersama suaminya di jalan Layur no 121 Semarang, Jumat (13/1/2023). (Tribun Jateng/Agus Salim Irsyadullah)

Ia pun sempat meneruskan jasa usaha foto milik mendiang ayahnya tersebut selama belasan tahun.

Namun, banjir rob yang melanda Kota Semarang setiap tahun membuat Nurul menyerah dan menutup jasa usaha foto tersebut di tahun 2003.

"Sudah kalah dengan rob. Tokonya saya tutup. Kalau mau buka lagi sudah nggak mampu mas," kata Nurul.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved