Berita Semarang
Bernostalgia di Bangunan Tua Eks Studio Foto Gerak Cepat Semarang
Sebuah bangunan berusia ratusan tahun masih berdiri kokoh di Jalan Layur Semarang.
Penulis: Agus Salim Irsyadullah | Editor: sujarwo
Kisah Cinta Semalam PSK dengan ABK
Bangunan bersajarah terletak di Jalan Layur No 121 di Kota Semarang yang bernama Studio Seni Gerak Cepat itu rupanya pernah menjadi tempat untuk mengabadikan cinta sesaat antara anak buah kapal (ABK) dan PSK yang datang ke Semarang.
Dalam buku "Kota Pelabuhan Semarang dalam Kuasa Kolonial" menyebut daerah tersebut sempat menjadi tempat berlabuh bagi kapal yang datang dari penjuru kota.
Hal itu, dibuktikan dengan adanya mercusuar yang berada di Masjid Layur. Dulunya, menara tersebut pernah dijadikan untuk menandai kedatangan kapal.
"Memang dulu tempat ini banyak dikunjungi para ABK untuk foto bersama wanita (PSK) di sini, ya cinta singkatlah pacar semalam," kenang Nurul.
Saking terkenalnya foto studio tersebut, Nurul menyebut mendiang ayahnya bahkan harus mencari 13 karyawan.
"Dulu karyawan bapak banyak, sampai 13 orang," tambahnya.
Ingin Buat Galeri Foto
Berdasarkan keputusan Wali Kota Semarang Nomor 646/50/Tahun 1992, bangunan bekas studio foto tersebut telah diresmikan sebagai bangunan cagar budaya.
Akan tetapi, Nurul ingin Pemerintah Kota Semarang lebih memperhatikan kondisi bangunan yang kini kian semrawut.
"Jujur saya bangga rumah ini menjadi cagar budaya. Bisa menjadi saksi sejarah,"
"Tapi setidaknya dibuatkan museum kecil atau galeri foto untuk menata agar nanti wisatawan tahu atau ketika datang ke sini dan ada yang bisa diperlihatkan secara rapi dan patut,” ujarnya sambil menunjukkan foto kenangan dirinya bersama mendiang ayahnya dulu.
Sebab, kata dia, dirinya tak akan mampu jika harus mengurus pembangunan galeri foto.
"Kalau semua dipasrahkan ke saya, ya saya ndak mampu. Ini berat," katanya.
Rasa cinta dan indahnya kenangan di rumah itu telah membuat Nurul beserta keluarganya enggan pindah.
Bahkan, meskipun rumah yang kini ditinggali bersama suaminya tersebut menjadi langganan banjir, ia tetap tak bergeming untuk pindah rumah.
“Saya tidak lahir di rumah ini, tapi saya tinggal lama di sini. Banyak kenangan bersama orang tua,"
"Saya cinta dengan rumah ini makanya bertahan. Eman-eman kalau ditinggal,” ucapnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/studio-foto-cepat7.jpg)