Berita Semarang

Kasus Kekerasan Seksual di Jateng Tinggi, Terbanyak Jenis KDRT

Kasus kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan di Jateng angkanya cukup tinggi. Terbaru, selain kasus yang menimpa anak remaja 15 tahun di Brebes

Penulis: iwan Arifianto | Editor: m nur huda
Shutterstock via Kompas.com
Ilustrasi - Kasus kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan di Jateng angkanya cukup tinggi. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kasus kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan di Jateng angkanya cukup tinggi.

Terbaru, selain kasus yang menimpa anak remaja 15 tahun di Brebes, juga ada empat korban pencabulan siswi SD di kota Semarang yang dilakukan penjaga sekolah.

Belum lagi, berbagai kasus lainnya dari guru Ngaji di Kabupaten Batang yang cabuli puluhan muridnya hinggakasus siswi di Banyumas yang "digilir" kakek-kakek dan pemuda dewasa.

LBH APIK Semarang mencatat di tahun 2022 angka kekerasan terhadap perempuan dan anak masih meningkat di Jateng. Terutama pada kekerasan seksual dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

LBH APIK Semarang di tahun 2022 mendapatkan pengaduan sebanyak 82 kasus dan 17 kasus yang didampingi oleh LBH APIK Semarang di dalam pendampingan bantuan hukum dari tingkatkepolisian dan pengadilan.

Angka itu meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, tahun 2020 ada 75 kasusdan tahun 2021 ada 67 kasus. 

"Melihat kasus itu dibutuhkan peran penting negara, masyarakat dan aparat penegak hukum dalam pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap perempuan," ujar Direktur LBH Apik Semarang, Raden Rara Ayu Hermawati Sasongko, saat dihubungi Tribun Jateng, Jumat (20/1).

Dari data pengaduankasusmasuk di LBH APIK Semarang tahun 2022, kekerasan dalam rumah tangga baik fisik, psikis dan penelantaran ekonomi menempati rangking pertama dengan 33kasus.

Disusul kekerasan berbasis gender online (KBGO) atau kekerasan seksual berbasis elektronik (KSBE) dengan total 17 kasus. Berikutnya adakasuskekerasan seksual terhadap anak ada 8kasus.

Sisanya terbagi di berbagaikasuslain seperti penelantaran anak, penganiyaan dan lainnya.

Persebaran daerah paling banyak berasal dari kota Semarang yakni ada 36 kasus, Kabupaten Demak 17 kasus, kabupaten Semarang 4 kasus,dan berbagai daerah lainnya.

"Relasi pelaku masih didominasi oleh orang terdekat yakni suami dan pacar atau mantan pacar," terang Ayu.

Di sisi lain, berdasarkan data dari Legal Resources Center untuk Keadilan Gender dan Hak Asasi Manusia (LRC-KJHAM) sejak tahun 2017 sampai tahun 2021 terdapat 1.249 kasus kekerasan terhadap perempuan di Jawa tengah.

Di tahun ini, Januari– November 2022 tercatat 124 kasus, dengan 147 perempuan menjadi korban.70 persen perempuan menjadi korban kekerasan seksual, satu korban kekerasan seksual meninggal dunia dan dua korban KDRT mengalami kriminalisasi.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved