Guru Berkarya
Tingkatkan Hasil Belajar IPA tentang Sistem Reproduksi Manusia melalui TGT
Proses pembelajaran didalam kelas merupakan interaksi antara guru sebagai pendidik dengan peserta didik, maupun peserta didik lainnya.
Oleh: Joko Nuroini, S.Pd., SMP Negeri 3 Wonokerto Kabupaten Pekalongan
Proses pembelajaran didalam kelas merupakan interaksi antara guru sebagai pendidik dengan peserta didik, maupun peserta didik lainnya. Pada proses pembelajaran terjadi proses transfer ilmu pengetahuan melalui berbagai model pembelajaran. Aktifitas pembelajaran yang terbaik adalah ketikan dilaksanakan secara aktif oleh peserta didik itu sendiri. Guru menjadi bagian dari mediator dan pembimbing. Guru tidak manjadi satu-satunya sumber belajar bagi peserta didik. Guru diharapkan mampu mendesain proses pembelajaran berpusat pada peserta didik. Peran guru dalam pembelajaran sangat penting sebagai penentu keberhasilan proses pembelajaran. Guru sebagai motivator, pembimbing dan fasilitator bagi peserta didik dalam proses pembelajaran termasuk dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam atau IPA. Pembelajaran yang dilakukan peserta didik tidak akan mendapatkan hasil maksimal tanpa adanya guru.
Seringkali, peserta didik banyak beranggapan bahwa IPA merupakan mata pelajaran yang sulit karena berisi materi praktek dan hafalan. Mata pelajaran IPA sebenarnya merupakan salah satu ilmu yang selalu menuntut adanya perubahan dalam proses pembelajaran. Hal ini terjadi pada peserta didik kelas IX SMP Negeri 3 Wonokerto Kabupaten Pekalongan pada pelajaran IPA materi Sistem Reproduksi Manusia. Hasil belajar mata pelajaran IPA pada umumnya masih terbilang rendah. Dibuktikan dari nilai rata-rata yang masih dibawah Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM). Rendahnya hasil belajar karena peserta didik kurang berminat dalam mengikuti pembelajaran yang dianggap membosankan, guru dalam penyampaian materi bersifat monoton tanpa variasi, guru kurang memanfaatkan metode dan model pembelajaran, sehingga menciptakan kejenuhan pada diri peserta didik. Sebagai upaya untuk membuat pelajaran IPA menjadi lebih menyenangkan, guru harus menerapkan model yang tepat diantaranya adalah Teams Games Tournament (TGT). Slavin (2015:163) mengungkapkan bahwa TGT adalah bagian dari pembelajaran kooperatif menggunakan turnamen akademik, kuis, dan sistem skor kemajuan individu, dimana para peserta didik berlomba sebagai wakil tim mereka dengan anggota tim lain yang kinerja akademik sebelumnya setara seperti mereka.
Langkah-langkah pembelajaran meliputi Presentasi kelas, Kelompok (teams), Games (permainan), Tournamens (kompetisi), dan penghargaan atau Rekognisi kelompok. Diawal pembelajaran guru melakukan presentasi di kelas. Kegiatan presentasi disertai dengan kegiatan tanya jawab dua arah antara guru dan peserta didik. Peserta didik harus benar-benar fokus dalam tahap ini agar bisa melanjutkan kegiatan berikutnya dengan baik. Peserta didik kemudian dikelompokkan secara heterogen. Tugas kelompok ini memastikan bahwa semua anggotanya belajar sesuai dengan kriteria yang diharuskan, sehingga akan dapat melakukan permainan (games) dengan baik nantinya. Peserta didik juga mengerjakan diskusi kelompok untuk menyelesaikan tugas atau lembar kerja yang dibuat guru. Games disusun dengan menggunakan kartu soal bernomor. Kompetisi merupakan sebuah struktur dimana games berlangsung. Kompetisi dilaksanakan pada akhir unit pokok bahasan, setelah guru memberikan presentasi kelas dan kelompok mengerjakan lembar kerja. Seluruh peserta didik terlibat dalam kompetisis untuk mewakili kelompoknya. Masing-masing memiliki kesempatan sama dalam mengumpulkan skor kelompok. Seorang peserta didik dipertemukan dengan peserta yang lain dengan kemampuan akademik yang setara dengan dirinya. Langkah terakhir TGT dikelas adalah memberi penghargaan setelah kompetisi dilaksanakan. Kelompok dengan akumulasi skor sangat tinggi dijuluki super team, kelompok dengan skor tinggi dijuluki great team dan kelompok dengan skor menengah dijuluki good team.
Penerapan proses pembelajaran dengan Model TGT yang dilaksanakan di kelas IX SMP Negeri 3 Wonokerto Kabupaten Pekalongan berjalan dengan baik. Iklim dan suasana menyenangkan dalam proses pembelajaran nampak pada wajah peserta didik. Hal ini juga berpengaruh meningkatnya hasil belajar sesuai yang diharapkan.
tribunjateng.com
Peningkatan Motorik Kasar melalui Metode Demonstrasi |
![]() |
---|
Metode Bercerita Meningkatkan Rasa Tanggung Jawab Anak |
![]() |
---|
Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis melalui Metode Eksperimen Berbasis Lingkungan |
![]() |
---|
Project Based Learning Strategi Meningkatkan Kreativitas Anak |
![]() |
---|
Peningkatan Budi Pekerti Anak melalui Metode Bercerita |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.