Berita Demak
Curhatan Petani Desa Pidodo Demak, Tahun Ini Gagal Panen Padi Terimbas Banjir
Menurut petani asal Desa Pidodo Demak, kenaikan harga beras saat ini tidak seiringan dengan cuaca yang mendukung untuk menghasilkan padi berkualitas.
Penulis: Tito Isna Utama | Editor: deni setiawan
"Satu hektare ongkos Rp 6 juta belum termasuk sewa lahan."
"Biasanya sewa lahan perhektare Rp 4 juta."
"Untuk hasil panen biasanya Rp 15 juga hingga Rp 20 Juta, tapi sekarang hanya Rp 5 juta," jelasnya.
Hal itupun belum termasuk untuk proses menjadi beras, lanjut kata dia, dihargai cukup tinggi tapi hasil panen yang sedikit.
"Kalau kombin lepas hijau Rp 5.500 perkilogram masih basah."
"Kalau untuk blower Rp 4.500 perkilogram."
"Memang harga jualnya tinggi, tapi hasil dari panen sedikit," tuturnya.
Baca juga: Catat! 20 Pengendara Perdana Tol Semarang-Demak Pada 27 Februari Bakal Dapat Hadiah
Dengan kerugian yang harus diterima itu, dia hanya bisa berharap adanya bantuan dari pemerintah untuk bisa menyambung kehidupan keluarganya.
"Bantuan belum ada sejauh ini."
"Harapan dibantu masalah benih, pupuk dibuat gampang, saat ini kami masih susah," harapnya.
Serupa juga dirasakan oleh Jono yang berharap pemerintah bisa memberikan bantuan kepada para petani yang gagal panen akibat banjir.
Menurutnya, jika ada bantuan dari pemerintah, itu pun diberikan tidak secara merata.
"Harapannya bantuan bagaimana saya tidak terima, tidak ada bantuan sama sekali kalau ada pun orang tertentu," kata Jono.
Merasakan kerugian yang cukup banyak saat menanam padi, Jono lebih memilih untuk beralih menanam buah melon.
"Dua hektare semua tidak bisa dipanen, belinya Rp 20 juta."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/gagal-panen-padi-demak.jpg)