Rabu, 3 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Opini

Opini Dian Marta Wijayanti: Mencegah Kepunahan Bahasa Ibu

TIAP tanggal 21 Februari kita memeringati Hari Ibu Internasional (International Mother Language Day). Peringatan ini ditetapkan oleh UNESCO pada tangg

Tayang:
Editor: m nur huda
Tribun Jateng
Opini Ditulis Oleh Dian Marta Wijayanti( Guru dan Kepala SDN Gajahmungkur 3 Kota Semarang) 

Pencegahan kepunahan bahasa ibu perlu dilakukan melalui pendidikan. Hal itu selaras dengan tema Hari Bahasa Ibu Internasional 2023 fokus pada pendidikan multibahasa dan kebutuhan untuk mengubah pendidikan. Untuk itu, perlu gerakan bersama untuk mencegah kepunahan bahasa ibu.

Pertama, pendidikan multibahasa dimasukkan ke dalam kurikulum sesuai dengan kearifan lokal masyarakatnya. Hal itu juga selaras dengan slogan "utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing" yang digelorakan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbudristek.

Kedua, pembiasaan bahasa ibu pada enam keterampilan berbahasa mengacu Kurikulum Merdeka, yaitu berbicara, membaca, menyimak/mendengarkan, menulis, memirsa, dan mempresentasikan. Ketiga, masifikasi gerakan bahasa ibu pada simbol-simbol pemerintahan, baliho, reklame, iklan layanan masyarakat, dan dokumen publik agar memori masyarakat semakin cinta pada bahasa ibu yang didukung Peraturan Daerah (Perda) di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.

Keempat, memperbanyak lomba menulis, membaca, mendongeng, deklamasi, dengan bahasa dan sastra daerah. Lomba bisa dilakukan saat Agustusan atau hari jadi kabupaten/kota di masing-masing daerah.
Kelima, memperbanyak konten seperti video dialek di TikTok dan Youtube, meme dan mikroblog di Instagram dan Facebook, dan video pendek di semua layanan pesan. Di era digital saat ini, peran media digital dan media baru sangat strategis untuk membumikan bahasa ibu.

Keenam, ibu, bapak dan semua anggota keluarga harus membiasakan penuturan bahasa ibu sejak dari bangun tidur hingga mau tidur lagi. Bahasa ibu tidak akan bisa bertahan ketika lingkungan keluarga sudah tidak menuturkan bahasa daerah masing-masing.

Ketujuh, perlunya kamus bahasa daerah, aplikasi bahasa, game dan e-sports game berbahasa daerah, dan buku yang menghimpun kata-kata, kalimat, dan peribahasa daerah sebagai dokumen untuk diajarkan guru dan orang tua kepada anak. Hal ini menjadi penting karena sifat dari bahasa adalah arbitrer sehingga butuh pedoman baku dari pemerintah.

Semua strategi di atas sekadar ikhtiar untuk mencegah kepunahan bahasa ibu.
Namun intinya semua elemen wajib melestarikan bahasa ibu sesuai daerahnya. Sebab, jika tidak ada keseriusan melestarikan bahasa ibu, maka akan terbuka pintu kepunahan-kepunahan bahasa daerah lagi di masa mendatang. (*tribun jateng cetak)

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved