Jumat, 8 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Jateng

52 persen CPO dunia disuplai oleh Indonesia tapi Kenapa Harga Diatur Malaysia dan Rotterdam?

Pemerintah berencana menetapkan harga acuan minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) melalui Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi

Tayang:
Penulis: hermawan Endra | Editor: Catur waskito Edy
hermawan endra
Acara seminar “Menjelajah Dunia Dinamis Derivatif” di Unika Soegijapranata, Semarang, Selasa (14/3). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pemerintah berencana menetapkan harga acuan minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) melalui Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti). 

Kepala Bappebti Didid Noordiatmoko, M.M mengatakan, rencana memasukan CPO dalam bursa berjangka komoditi didasarkan karena Indonesia menjadi pemasok utama CPO dunia. 

“Sebesar 52 persen CPO dunia disuplai oleh Indonesia, tapi saat ini harga acuan masih melihat pihak lain yakni mengacu pada Malaysia dan Rotterdam,” kata Kepala Bappebti Didid Noordiatmoko, M.M saat acara seminar “Menjelajah Dunia Dinamis Derivatif” di Unika Soegijapranata, Semarang, Selasa (14/3). 

Melalui upaya ini diharapkan suplay ekspor menjadi lebih transparan dan lebih baik. Selain itu,ketika sudah transparan maka harga CPO serta penerimaan pajak juga akan lebih jelas, yang pada akhirnya juga memakmurkan para petani. 

Didid Noordiatmoko, M.M menambahkan, di bulan Maret ini pihaknya juga mencanangkan bulan literasi Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK).

Perguruan tinggi menjadi salah satu target sasaran, karena keberadaan mahasiswa diharapkan bisa menjadi agen literasi PBK dengan menyampaikan informasi yang diperoleh kepada temannya yang lain. 

“Selain itu, perguruan tinggi diharapkan bisa memberikan masukan kepada kami sebagai regulator dari kebijakan yang akan dikeluarkan,” ujarnya. 

Ia mengungkapkan, sepanjang 2022 banyak pengaduan yang berkaitan dengan aksi penipuan berkedok PBK, kasus terbesar adalah robot treding, melibatkan crazy rich di Jawa Timur. 

“Melalui kegiatan ini kami ingin supaya masyarakat lebih sadar, tidak tergiur Imimg-iming fix incame 10 persen per bulan. Sebab selalu ada resiko dalam investasi. Kami ingin agar masyarakat memahami investasi perdagangan berjangka komoditi,” pungkasnya. 

Senada, President Director JFX, Stephanus Paulus Lumintang menilai Indonesia memiliki potensi generasi milenial yang cukup besar. Kaum ini memiliki animo tinggi soal investasi sehingga penting untuk memberikan literasi berkaitan hal tersebut agar tidak menjadi korban penipuan. 

Ia mengingatkan kepada masyarakat bahwa tidak ada sesuatu yang pasti untung di dalam berinvestasi. Pilihlah sesuatu yang legal, supaya terhindar dari aksi penipuan berkedok investasi. 

Menurutnya, suatu investasi memang berpotensi menghasilkan keuntungan, namun juga ada risiko di dalamnya. Kasus yang muncul terkait penipuan investasi, umumnya muncul karena tawaran yang hanya menjanjikan keuntungan semata.

"Kami harus meningkatkan literasi supaya jangan lagi ada korban penipuan. Untuk robot trading jelas bukan investasi, melainkan skema ponsi," ujarnya.

Vice Manager PT Valbury Asia Future, Ronald Candra berharap, dari seminar tersebut mahasiswa bisa belajar lebih dini tentang investasi, terutama di bidang Perdagangan Berjangka Komoditi. Terlebih, belakangan ini banyak masyararakat yang tertipu investasi bodong.

"Sosialisasi ini kami harapkan bisa membantu masyarakat, termasuk mahasiswa. Kami pun sangat terbuka kepada masyarakat umum yang ingin belajar investasi. Kami juga menjalin kerja sama dengan para pihak berupa event, serta dengan menyediakan fasilitas," sebutnya. (*)

Baca juga: Polres Kudus Selesaikan 11 Kasus Dalam Kurun Beberapa Minggu, Curanmor Marak jelang Ramadhan

Baca juga: Video Temu Pelanggan Setia Samsung, Wisnu Kumoro Bagi Pengalaman Bikin Konten Pakai Galaxy S22

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved