Sabtu, 11 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Guru Berkarya

Mengenal Berbagai Gejala Alam melalui Bermain Peran yang Menyenangkan

Penerapan metode bermain peran meningkatkan keaktifan anak didik. Anak didik merasa senang menjajal berbagai peran.

Editor: galih permadi
Istimewa
Nur Khasanah,S.Pd.SD - SDN 01 Kepatihan Kecamatan Wiradesa Kabupaten Pekalongan 

Nur Khasanah,S.Pd.SD
SDN 01 Kepatihan Kecamatan Wiradesa Kabupaten Pekalongan

Mengenal Berbagai Gejala Alam melalui Bermain Peran yang Menyenangkan

TRIBUNJATENG.COM - Salah satu mata pelajaran di sekolah yang terkait dengan interaksi sosial dalam masayarakat adalah Ilmu pengetahuan sosial (IPS). IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah dasar secara terintegrasi dengan mata pelajaran yang lain. Tujuan pembelajaran IPS adalah untuk mengembangkan potensi anak didik agar peka terhadap masalah pribadi, masalah sosial yang terjadi di masyarakat, serta memiliki sikap mental positif. Mursidah (2014:48) mengungkapkan bahwa sebaiknya pembelajaran IPS mampu mempersiapkan, membina, dan membentuk kemampuan anak didik yang menguasai kecakapan dasar yang diperlukan bagi kehidupan di masyarakat.

Anak didik mempelajari materi Cara Menghadapi Gejala Alam. Materi ini sangat penting untuk bekal anak didik menentukan langkah pada saat menemukan kejadian yang sedang dipelajari. Selain itu, dengan mempelajari berbagai gejala alam, anak didik bisa mengetahui lebih banyak jenis gejala alam. Di era digital seperti ini, anak didik diharapkan mengenal dan mengetahui berbagai gejala alam melalui media yang berkembang. Informasi sangat mudah didapatkan seputar gejala alam dan dampak yang ditimbulkan.

Realita yang terjadi pada anak didik kelas enam SDN 01 Kepatihan Kecamatan Wiradesa Kabupaten Pekalongan, pengetahuan anak didik mengenai gejala alam masih terbatas. Anak didik lebih mengenal gejala alam yang berhubungan dengan gunung dan erosi. Hal ini disebabkan daerah sekolah merupakan dataran tinggi. Guna menyiasati masalah tersebut, diperlukan kegiatan yang merangsang anak didik menjadi aktif. Salah satu caranya dengan memilih metode pembelajaran yang menyenangkan. Metode yang sesuai untuk mengenal berbagai jenis gejala alam yaitu bermain peran.

Bermain peran merupakan bagian dari metode simulasi yang banyak digunakan dalam pembelajaran yang dekat dengan anak. Menurut Kurniawan (2006:64) menjelaskan bahwa bermain peran merupakan metode mengajar yang dalam pelaksanaannya anak didik mendapat tugas dari guru untuk mendramatisasikan suatu situasi sosial yang mengandung masalah. Dengan metode bermain peran anak didik dapat menghayati peranan yang dimainkan, dan mampu menempatkan diri dalam situasi orang lain.

Sebelum pembelajaran subtema berbagai gejala alam, guru menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan. Guru juga menyiapkan skenario yang akan dimainkan. Langkah-langkah metode bermain peran dalam pembelajaran diawali dengan guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan cara bermainnya. Selanjutnya, anak didik membentuk kelompok sesuai dengan undian. Langkah berikutnya, perwakilan dari tiap kelompok memilih kotak yang sudah disediakan guru. Kotak tersebut berisi kostum dan skenario yang harus dilaksanakan tiap kelompok. Sesuai materi, tiga kotak diisi dengan jenis gejala alam yang sering muncul di berbagai daerah diseluruh dunia. Kotak pertama berisi gejala alam tekait dataran tinggi. Kotak kedua berisi gejala alam di dataran rendah. Kotak ketiga berisi gejala di daerah pantai. Jika semua sudah memilih, anak didik diberikan waktu untuk berlatih secara singkat mengenai peran yang akan dimainkan. Kemudian, tiap kelompok tampil secara bergiliran. Selesai semua tampil, guru memberikan apresiasi dan penguatan mengenai berbagai perkerjaan yang ada di lingkungan sekitar. Bermain peran yang menyangkut gejala alam adalah memiliki kecenderungan berbentuk simulasi berbagai kejadian yang di hasilkan.

Penerapan metode bermain peran meningkatkan keaktifan anak didik. Anak didik merasa senang menjajal berbagai peran. Anak didik juga menjadi percaya diri dan kreativitas anak didik juga meningkat. Anak didik mampu berimprovisasi dalam berdialog. Meskipun dialog yang mereka sampaikan seadanya, tetapi tujuan pembelajaran dapat tercapai. (*)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved