Happy Ramadhan
JEJAK ISLAM- Mengenal Ki Ageng Pandanaran, Penyebar Agama Islam dan Pendiri Kota Semarang
Ki Ageng Pandanaran, itulah sosok penyebar agama Islam dan Bupati pertama di Semarang
Penulis: rahdyan trijoko pamungkas | Editor: muslimah
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Berkunjung ke Ibukota Jawa Tengah tak lengkap jika belum mengenal tokoh penyebar agama Islam dan pendiri Kota Semarang.
Ki Ageng Pandanaran, itulah sosok penyebar agama Islam dan Bupati pertama di Semarang.
Makamnya terletak di Jalan Mugas Dalam II, Nomor 04 RT 07/RW 03 Mugassari Kecamatan Semarang Selatan Kota Semarang.
Ajaran-ajaran dan kegiatan yang dilaksanakan Ki Ageng Pandanaran masih dilestarikan hingga saat ini.
Baca juga: Jejak Penyebaran Islam di Masjid Jami Nur Nganguk Wali Kudus, di Sini Para Wali Bertemu dan Diskusi
Baca juga: JEJAK ISLAM : Ziarah ke Makam Kiai Soleh Darat di Kompleks Bergota Semarang
Keturunan Ki Ageng Pandanaran, Aris Pandan Sejawan menerangkan Ki Ageng Pandanaran berasal dari Kerajaan Demak.
Ki Pandanaran merupakan murid dari Sunan Kalijaga.
"Ki Ageng Pandanaran diutus Sunan Kalijaga untuk belajar menyiarkan agama Islam dengan pendekatan budaya," tuturnya, Jumat (31/3/2023).
Dalam menyiarkan Agama Islam, Ki Ageng Pandanaran lama tinggal di wilayah Mugas yang dulu disebut Berguta.
Bersama pengikutnya, Ki Ageng Pandanaran juga ikut berperan babat alas di Kota Semarang dengan meyiarkan Agama Islam.
"Nama asli beliau adalah Pangeran Made Pandan. Dijuluki Pandanaran karena dulu sekitar Mugas banyak pohon asam yang arang-arang.
Kemudian beliau mengembara dan kembali ke sini kaget karena pohonnya arang-arang (jarang-jarang) pohon asam. Kemudian beliau disebut Ki Ageng Pandanaran," jelasnya.
Menurutnya, ketika telah banyak pengikutnya, Ki Ageng Pandanaran mendirikan Kadipaten yang arenya mencakup dari Kabupaten Semarang hingga Kabupaten Kendal.
Sebelum wafat Ki Ageng Pandanaran memiliki penerus yang dinamakan Pandaran II atau sekarang disebut Sunan Bayat.
"Pandanaran II mengembara hingga bukit Jabalkat Kabupaten Klaten," ujarnya.
Banyak peninggalan pusaka bersejarah Ki Ageng Pandanaran saat menyebarkan agama Islam yang saat ini masih tersimpan.
"Setiap bulan ramadan, beliau selalu mengadakan kajian kitab-kitab kuno. Isi kitab itu intinya mengajarkan kesabaran dan tepo seliro," jelasnya.
Aris menjelaskan Ki Ageng Pandanaran tidak memiliki padepokan besar.
Ki Ageng Pandanaran hanya melaksanakan kajian di padepokan kecil yang hanya diikuti orang-orang tertentu.
"Jadi santrinya datang setiap waktu tertentu jika ada kajian. Kalau ramadan beliau mengadakan kajian rutin setiap pagi, menjelang buka puasa, dan sebelum salat tarawih berjamaah," jelas dia.
Kebiasaan Ki Ageng Pandanaran menggelar kajian masih diteruskan hingga saat ini.
Kajian dilaksanakan sebelum bulan ramadan dan setiap menjelang buka puasa.
"Banyak masyarakat yang datang ke sini. Tidak hanya itu salat tarawih di masjid dan tadarusan juga rutin digelar selama ramadan," terangnya.
"Disini juga ada kajian setelah salat subuh, menjelang buka puasa dan sebelum salat tarawih seperti yang dilakukan Ki Ageng Pandanaran," imbuhnya.
Ia menuturkan para jamaah juga setiap tahun menggelar Haul mengenang napak tilas Ki Ageng Pandanaran.
Bahkan rangkaian hari jadi Kota Semarang dimulai dari kawasan makam Ki Ageng Pandanaran.
"Hari jadi Kabupaten Semarang juga dimulai dari makam Ki Ageng Pandanaran. Bupati hingga anggota dewan juga datang kesini," tuturnya. (*)